Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Tiga Makanan Paling Intoleran pada Tubuh

Rabu 26 Feb 2020 07:07 WIB

Rep: Arie Lukhardianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Makanan mengandung gluten (ilustrasi)

Makanan mengandung gluten (ilustrasi)

Foto: FITNESS MALAYSIA BLOGSPOT
Tiga jenis makanan paling intoleran pada tubuh ini justru paling sering dikonsumsi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--- Hidup sehat telah menjadi gaya hidup bagi masyarakat perkotaan. Tetapi akibat kurangnya pengetahuan, tidak sedikit masyarakat justru menjalani pola membahayakan tubuh. Misalnya, mengonsumsi makanan yang intoleran terhadap tubuh.

Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik A Firmansah Wargahadibrata, ada tiga jenis makanan yang menyebabkan intoleran terhadap tubuh. Yaitu jenis gluten (seperti terigu dan berbagai jenisnya), susu sapi dan olahannya, serta kafein dari kopi, teh, vitamin stamina, obat sleaming dan lainnya.

"Tiga jenis makanan yang paling intoleran terhadap tubuh, justru ini paling sering dimakan tubuh kita. Sumber makanan ini menjadi penyebab gangguan pencernaan seperti maag, gird, dan lainnya," ujar Firmansah kepada wartawan saat ditemui di Bandung Skin Centre,  Kota Bandung, Selasa (25/2).

Menurut Firman, makanan intoleran tersebut tak hanya menyebabkan masalah pencernaan bagi yang mengonsumsinya. Namun, kalau makanan itu dikonsumsi secara berlebihan akan mengakibatkan bertambahnya kadar toksin atau racun di dalam tubuh. Racun tersebut akan mengendap di tubuh manusia.

"Ketiga jenis makanan itu juga tercatat akan menguras anti-oksidan di dalam tubuh, karena sifat racunnya," katanya.

Firmansah menjelaskan, berdasarkan hasil riset kesehatan terhadap DNA mayarakat di Indonesia dan kawasan Asia menunjukkan mayoritas risiko terhadap ketiga makanan itu. Jenis gluten, tercatat mempengaruhi kondisi kesehatan mayarakat Indonesia dan Asia sebesar 8 persen kategori risiko tinggi, 37 peraen risiko sedang, dan 55 persen berisiko rendah.

Sedangkan makanan dari jenis susu sapi dan turunnya, kata dia, akan berisiko terhadap 9 dari 10 orang masyarakat Indonesia. Sementara untuk makanan yang mengandung kafein, 1 dari 2 orang tercatat intoleran.

Menurutnya, untuk beberapa orang yang melakukan diet atau program kesehatan tubuh lainnya, perhatikan jenis makanan yang intoleran terhadap tubuh. "Kalau di klinik kami, sebelum lakukan program ada tea DNA, cek intoleransi makanan terhadap tubuh pasien, dan lainnya," katanya.

Menurutnya, banyak masyarakat yang menghubungkan kematian mendadak akibat jantung, yang disebabkan kolestrol. Sehingga, banyak masyarakat yang menghindari makanan berlemak dan mengonsumsi makanan tanpa digoreng.

Tetapi, kata dia, walaupun telah mengurangi konsumsi minyak, ternyata setelah di cek, kolesterolnya tetap tinggi. Artinya, belum tentu kolesterol ini disebabkan oleh makanan. Jadi ada pemicu lain. "Atau menandakan bahwa badan kita sedang mengalami kerusakan. Kolestrol sedang masuk pembuluh darah, jadi sel rusak," katanya.

Firmansah mengatakan, tidak baik bila mayarakat ingin menghindari kolesterol dan menghilangkan berbagai makanan yang berminyak. Padahal, tubuh kita tetap membutuhkan lemak sebesar 20 sampai 30 persen dari total energi per hari.

Sementara kalau kekurangan minyak, kata dia, akan kurang juga vitamin A D dan lainnya. Akibatnya tidak ada detoksifikasi di hati kita. "Kalau ini terjadi terus, orang akan makin tidak sehat. Bahkan menyebabkan kerusakan organ tubuh. Tergantung orang paling lemah di mana. Kalau di jantung, akan menghadapi risiko akibat jantung," paparnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA