Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Orang Mulai Bersih-Bersih Medsos demi Karier

Ahad 23 Feb 2020 11:33 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Qommarria Rostanti

Media sosial

Media sosial

Foto: ist
Sebagian perusahaan menggunakan medsos untuk mengecek latar belakang pelamar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di beberapa negara, media sosial (medsos) menjadi referensi untuk pengembangan karier. Tak heran apabila orang-orang yang ingin melamar pekerjaan mulai melakukan bersih-bersih terhadap akun medsos miliknya.

Pendiri platform TopKarir, Bayu Janitra Wirjoatmodjo, mengatakan hal itu dilakukan oleh orang-orang yang mungkin memiliki konten kurang mendukung untuk kariernya. Bisa jadi, konten tersebut diunggah saat yang bersangkutan masih belia.

"Tak memungkiri tim HR (human resource) sebuah perusahaan sekarang juga menggunakan media sosial sebagai background checking atau cross reference untuk menilai seorang kandidat," ujarnya kepada Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Dari sisi tim HR atau psikolog, mereka bisa menambah penilaian dari pengecekan media sosial. Misalnya, jika tim HR membutuhkan tenaga pemasaran, maka mereka akan menilai medsos para kandidat. Apakah mereka memiliki komunikasi yang baik, supel, atau kenal dengan berbagai komunitas atau tidak.

Di sisi kandidat atau anak muda, ada beberapa tip yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan medsos sebagai sarana penunjang pengembangan karier. Hal yang paling utama adalah pergunakan medsos untuk mengembangkan diri dan memperbaiki kualitas diri agar semakin lebih baik.

Bayu menganjurkan gunakan media sosial tak hanya sebagai media hiburan, melainkan media mencari ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan diri.

"Banyak kok konten positif di Twitter yang bisa mencerahkan pandangan atau cakrawala pemikiran kita, tentu yang berasal dari akun-akun yang memang memiliki kredibilitas ya," kata Bayu.

Cara kedua adalah kandidat diminta membuat konten yang tak melulu mengenai emosional diri. Sebaliknya, buatlah konten yang lebih menarik dan mengundang diskusi dengan banyak orang. Misalnya, seseorang hobi menonton film. Agar konten media sosialnya lebih menarik, dia bisa mendiskripsikan pemikiran-pemikiran atau analisanya mengenai film yang telah ditonton.

Cara terakhir yaitu manfaatkan medsos sebagai ajang tolong-menolong dalam kebaikan. Saat ini, banyak anak mudamenggalang bantuan lewat medsos.

"Itu akan menjadi nilai plus bagi dia di mata tim HR karena mereka jadi tahu ada hal-hal positif di dalam sosok ini," kata Bayu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA