Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Mi Khas Wuhan Jadi Simbol Solidaritas di Tengah Wabah Corona

Jumat 21 Feb 2020 05:59 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Mi kering khas Wuhan jadi simbol solidaritas di tengah wabah Covid-19.

Mi kering khas Wuhan jadi simbol solidaritas di tengah wabah Covid-19.

Foto: Youtube
Di tengah wabah corona, mi khas kota Wuhan menjadi simbol solidaritas.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN — Banyak orang mengetahui Wuhan setelah ibu kota dari Provinsi Hubei, Cihna itu menjadi sorotan dunia seiring kemunculan virus corona tipe baru pada akhir Desember 2019. Apa yang dibayangkan oleh orang-orang di seluruh dunia mungkin terbatas dari cerita-cerita yang beredar di berbagai berita dan media sosial, seperti kepanikan, jalan-jalan yang kosong dan mencekam, orang-orang yang memakai masker wajah, serta tim medis dengan pakaian pelindung, hingga rumah sakit yang dibangun dengan cepat untuk menampung banyak korban terinfeksi.

Namun, Wuhan sebenarnya memiliki wajah lain, jauh sebelum wabah virus Covid-19 melanda warga kota itu. Di sana, ada sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti kuil-kuil bersejarah, hingga pemandangan pohon-pohon dengan bunga sakura yang akan berkembang di musim semi.

Tak kalah menarik, Wuhan juga terkenal dengan sajian kuliner khas, yaitu hot dry noodles atau mi kering panas serta dikenal oleh warga lokal dengan sebutan re gan mian. Anda bisa membayangkan semanguk mi berbentu spiral yang kenyal, dilapisi dengan pasta wijen panggang berwarna coklat, serta kadang dihiasi dengan bintik-bintik dari paprika merah, acar sayuran, bawang hijau, dan rempah-rempah lembut.

Segala hal tentang Wuhan sebelum wabah yang dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai darurat kesehatan global, luput dari pandangan. Dalam berbagai surat kabar, serta media lainnya, kota yang menjadi rumah dari lebih dari 11 juta orang itu tak lebih dari sekadar pusat virus mematikan.

Lydia Chang, seorang pengusaha restoran yang berbasis di Ibu Kota Washington, Amerika Serikat (AS) mengingat masa kecilnya di Wuhan. Sang ibu yang berprofesi sebagai koki bernama Lisa Chang berasal dari kota di wilayah tengah China tersebut dan sang ayah bernama Peter adalah penduduk asli Provinsi Hubei.

“Jika Anda bertanya kepada siapapun yang pernah ke Wuhan apa yang meeka ingat, mereka akan mengatakan mi wijen,” ujar Chang dilansir The Washington Post.

Baca Juga



Chang sangat menyayangkan dunia tidak mengenal Wuhan sebagai kota yang pernah diingatnya, melainkan hanya seperti saat ini, pusat epidemi berbahaya. Ia merasa sedih mengingat di kota masa kecilnya yang indah dengan budaya luar biasa.

“Menyedihkan bagi Wuhan karena sebenarnya di sana ada budaya dan hal yang luar biasa, tetapi diakui oleh dunia untuk pertama kalinya karena sesuatu yang tragis,” jelas Chang. 

Menurut Chang, cita rasa kuliner Wuhan bisa menggambarkan salah satu pengalaman menyenangkan dari kota itu. Ia dan keluarganya membuka bisnis restoran dan membukanya di Washington. Mi tepung keriting dengan saus tradisional dan campuran lada merah yang menghangatkan khas dari kota itu tersedia di sana.

Mi kering panas Wuhan jauh lebih sedikit diketahui banyak orang di Amerika dan lainnya. Seperti diungkapkan Jennifer 8 yang mengatakan masakan ini bahkan tidak ada di wilayah lain di China.

Kini, mi kering panas Wuhan menjadi simbol solidaritas bagi Wuhan dan semua orang yang kini diisolasi di dalamnya. Ketika berita wabah virus Covid-19 menyebar, sebuah kartun dari China yang menyentuh beredar di media sosial.

Di kartun itu, terlihat semangkuk mi yang digambarkan sebagai pasien rumah sakit sedang dirawat oleh seorang dokter. Di luar jendela, sekelompok karakter lain berkumpul, masing-masing menggambarkan hidangan khas daerah lain, memegang tanda bertuliskan, "Mi kering panas, jadi lebih baik”.

Dalam gerakan lainnya, sekelompok orang menyambungkan gambar hidangan ikonik Wuhan lainnya dengan semangkuk mi kering panas yang akan menjadi satu hidangan. Pesan dari gambar ini adalah sebuah persatuan: “Kami tidak berbeda satu sama lain”.

Yuli Yang, seorang editor CNN yang berbasis di Hong Kong mengunggah gambar itu untuk memberikan penghormatan kepada kota kelahirannya di Wuhan. Termasuk gambar surat cinta untuk hidangan dan hal-hal lainnya yang memperlihatkan khas dari kota itu, seperti danau yang indah, bunga lotus, hingga menjadi juara pertama dari kompetisi Grand Slam Asia.

"Dengan dongeng mini Wuhan ini, saya harap Anda dapat membuka ruang kecil di hati Anda. Ruang untuk belas kasih. Sebuah ruang untuk mencintai dan mendukung jutaan teman-teman saya di Wuhan-ku,” tulis Yang.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA