Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Musim Flu, AS Bisa Kesulitan Bedakannya dengan Covid-19

Kamis 20 Feb 2020 22:03 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Musim flu bisa membuat petugas kesehatan AS kesulitan membedakan penyakit saluran pernapasan itu dengan infeksi Covid-19.

Musim flu bisa membuat petugas kesehatan AS kesulitan membedakan penyakit saluran pernapasan itu dengan infeksi Covid-19.

Foto: guardian.co.uk
Di tengah ancaman wabah Covid-19, virus flu mematikan juga menghantui anak-anak AS.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK- Gelombang flu kedua menghantam AS dan menjadikan ini salah satu musim paling buruk bagi anak-anak dalam 10 tahun terakhir. Sekitar 92 anak meninggal karena virus flu.

Jumlah kematian anak dan tingkat rawat inap untuk anak-anak mencapai yang tertinggi terlihat pada titik ini di setiap musim sejak wabah flu parah 2009-2010, menurut data departemen kesehatan, per Jumat (14/2). Musim virus ini diperkirakan akan terus berlangsung selama berminggu-minggu.

Para ahli mengatakan, saat ini adalah potensi waktu yang buruk untuk musim flu yang berkepanjangan. Terlebih AS masih dibayangi kekhawatiran tentang virus Covid-19 dari China, yang dapat menyebabkan gejala yang sulit dibedakan dengan flu jika tanpa melalui pengujian.

"Jika virus corona mulai menyebar di AS, kemungkinan ada kebingungan tentang apakah orang sakit dengan corona atau flu," kata Dr William Schaffner, ahli penyakit menular di Vanderbilt University, dilansir di AP.

Musim flu ini dimulai paling awal dalam 15 tahun, dengan lonjakan penyakit seperti flu terlihat di beberapa bagian Selatan pada awal Oktober. Sebagian besar kasus disebabkan oleh jenis flu yang biasanya menyebabkan infeksi besar hanya pada musim semi, pada akhir musim flu.

Gelombang musim flu memuncak pada akhir Desember dan turun terus selama berminggu-minggu sesudahnya. Namun, gelombang kedua dimulai pada akhir Januari. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), dua pekan lalu terlihat peningkatan persentase kunjungan kantor dokter yang disebabkan oleh penyakit serupa flu.

"Kami belum mencapai puncak influenza. Kami masih dalam perjalanan ke sana," kata Dr David Weber, spesialis penyakit menular dari University of North Carolina, mengatakan tentang lalu lintas pasien di Chapel Hill.

Secara keseluruhan, CDC memperkirakan bahwa 26 juta orang Amerika sakit flu pada musim gugur dan musim dingin yang lalu, dengan sekitar 250 ribu rawat inap terkait flu dan sekitar 14 ribu kematian. Virus-virus di balik kedua gelombang itu bisa keras pada anak-anak dan dewasa muda.

Baca Juga

Virus flu tidak dianggap berbahaya bagi orang usia lanjut. Ini kabar baik karena sebagian besar kematian akibat flu dan rawat inap setiap musim dingin terjadi pada orang tua. Faktanya, angka kematian dan rawat inap keseluruhan musim ini tidak tinggi.

"Karena kami belum melihat lansia terlibat dalam musim flu ini," kata Lynnette Brammer dari CDC.

Namun, 92 kematian terkait flu telah dilaporkan pada anak-anak, jumlah yang lebih tinggi pada titik ini di tahun ini dibandingkan pada musim apa pun dalam sepuluh tahun terakhir. Tingkat rawat inap juga jauh lebih tinggi daripada yang terlihat pada saat ini.

CDC mengatakan, alasannya adalah bahwa dua jenis flu yang kuat pada anak-anak menyebar di musim yang sama. Otoritas ksehatan diperkirakan akan merilis perkiraan seberapa efektif vaksin flu dalam waktu dekat.

Sejauh ini, tidak ada kematian akibat Covid-19 di AS. Semua kecuali dua kasus terjadi pada orang yang telah melakukan perjalanan ke Wuhan, China, pusat penyebaran internasional. Dua sisanya tersebar dari para pelancong ke pasangan mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA