Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Benarkah Kopi Biang Keladi Penyakit Jantung?

Kamis 20 Feb 2020 00:31 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Banyak orang percaya minum kopi adalah kebiasaan yang buruk untuk kesehatan jantung.

Banyak orang percaya minum kopi adalah kebiasaan yang buruk untuk kesehatan jantung.

Foto: Pexels
Banyak orang percaya minum kopi adalah kebiasaan yang buruk untuk kesehatan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minum kopi sering disebut sebagai biang keladi penyakit jantung. Banyak orang percaya minum kopi adalah kebiasaan yang buruk dan menyebabkan penyakit jantung.

Baca Juga

Benarkah begitu? Faktanya adalah kopi jika dikonsumsi dalam jumlah terbatas kurang dari empat gelas perhari tidak memperburuk kesehatan, bahkan bisa berefek positif pada kesehatan. Yang berdampak buruk bagi tubuh adalah gula dan susu tinggi lemak yang dikonsumsi bersamaan dengan kopi.

"Akibatnya bisa meningkatkan kadar gula darah," kata dr Dasdo Antonius Sinaga SpJP(K).

Selain itu, karena bersifat asam, kopi bisa menyebabkan masalah pada lambung, terutama pada orang-orang yang sensitif. Dasdo menjelaskan, meningkatnya asam lambung bisa menyebakan terjadinya nyeri ulu hati, sesak napas, hingga berdebar-debar yang gejalanya bisa menyerupai orang yang mengalami serangan jantung.

Menurut Dasdo, kopi tanpa gula alias kopi pahit yang diminum dalam porsi terbatas, tidak menyebabkan serangan jantung. Satu sampai dua gelas per hari masih aman.

Lebih lanjut, Dasdo menampik kabar yang menyatakan bahwa orang yang sudah terkena serangan jantung atau strok dilarang berolahraga dan hanya boleh istirahat. Ia menyebut hal itu pandangan yang salah.

"Sesegera mungkin, setelah mengalami serangan jantung, pasien jantung harus segera mulai bergerak atau berolah fisik," jelas konsultan kardiologi intervensi Rumah Sakit Awal Bros ini.

Dasdo menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik yang dianjurkan oleh dokter. Mulai dengan berjalan lambat hingga jalan cepat.

"Durasinya adalah selama 30 sampai 40 menit, tiga sampai empat kali per minggu," ungkapnya.

Jika fisik sudah lebih kuat, menurut Dasdo, mereka bisa mulai berjalan cepat hingga berlari kecil. Olahraga lain yang dianjurkan adalah bersepeda, baik sepeda statis ataupun sepeda di jalanan. Penelitian membuktikan bahwa pascaserangan jantung, merka yang rajin berolahraga atau gerak tubuhnya aktif bisa memperpanjang usia hidup.

"Pada saat berolahraga, jantung akan berdetak lebih cepat, sehingga bisa memompa darah lebih efisien, dan kesehatan pembuluh arteri juga lebih baik," tutur Dasdo.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA