Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Cegah Serangan Jantung, Lakukan Deteksi Dini Kardiovaskular

Rabu 19 Feb 2020 04:08 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Indira Rezkisari

Istri almarhum Ashraf Daniel Mohammed Sinclair, Bunga Citra Lestari (kanan) memeluk anaknya Noah Sinclair saat pemakaman suaminya, di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Ashraf diduga meninggal akibat serangan jantung.

Istri almarhum Ashraf Daniel Mohammed Sinclair, Bunga Citra Lestari (kanan) memeluk anaknya Noah Sinclair saat pemakaman suaminya, di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Ashraf diduga meninggal akibat serangan jantung.

Foto: Antara/M Ibnu Chazar
Memasuki usia 40 tahun pria bisa mulai lakukan deteksi dini kardiovaskular.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Hananto Andriantoro mengatakan penyakit jantung dapat dialami oleh siapa saja, terutama mereka yang memiliki faktor risiko. Oleh karena itu, ia menyarankan agar dapat melakukan deteksi dini kardiovaskular.

"Kalau di RS Harapan kita programnya, laki-laki masuk usia 40 itu harus dikejar deteksi dini kardiovaskuler," ujar Hananto saat dihubungi, Selasa (18/2).

Menurut Hananto, dalam deteksi dini kardiovaskular akan ada banyak pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kelainan dari pembuluh darah jantung. Lamanya pemeriksaan adalah dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB.

"Jadi (nanti) ada banyak pemeriksaan ya, namanya deteksi dini kardiovaskular. Itu paling pencegahannya sebelum terkena serangan jantung, masuk usia 40 itu pencegahannya (deteksi dini)," ujar Hananto.

Dengan melakukan deteksi dini Kardiovaskular kata dia, maka selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menjaga pola hidup sehat. Misalnya dengan menjaga makanan dari yang bisa menyebabkan diabetes.

"(Seperti) fastfood itu, kalau dia memang ada diabetes, ada hiperkolesterol," ujarnya.

Kemudian untuk olahraga, Hananto menganjurkan untuk melakukan olahraga aerobik. Aerobik ini di antaranya seperti senam lantai, jalan cepat, berenang, lari, naik speda, lompat tali, dan zumba.

"Olahraganya dianjurkan aerobik, jadi olahraga aerobik bedakan dengan (yang diperuntukkan) kompetisi atlet," ujar Hananto.

Misalnya terang Hananto, olahraga lari yang dilakukan atlet hingga 100 meter atau olahraga sepeda menanjak hingga e160-180 feet. "Kalau dia naik sepeda menanjak sampai 160-180 feet itu namanya kompetiti atlet, radikal yang keluar," terang dia.

Sedangkan olahraga yang dibutuhkan oleh penderita jantung adalah olahraga dengan mengeluarkan radikal yang dinetralisir oleh antioksidan pada tubuh secara alami.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA