Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Hand Sanitisers Jadi Barang Penting di London Fashion Week

Ahad 16 Feb 2020 12:36 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Cairan pembersih tangan.

Cairan pembersih tangan.

Foto: freshecology.wordpress.com
Penyelenggara London Fashion Week mewaspadai penularan virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI—Sanitiser tangan menjadi benda paling penting dalam acara London Fashion Week 2020 yang dibuka pada Jumat (14/2). Hal ini terkait dengan wabah virus corona COVID-19.

Pertunjukan catwalk dimulai dengan perancang Cina Yuhan Wang yang menghadirkan koleksi solo pertama. Dia mengeluarkan jaket berpinggang terinspirasi era Victoria dan blus renda hitam.

Kepala eksekutif dewan mode Inggris Caroline Rush memperingatkan jumlah penampil akan turun karena virus corona. Beberapa desainer berjuang karena penutupan jaringan transportasi dan pabrik di China.

“Kami memiliki satu desainer yang tidak dapat ditampilkan karena koleksi mereka belum tiba dari China. Ini karena masalah logistik,” ujar Rush kepada Reuters, seperti yang dilansir dari Indian Express, Sabtu (15/2).

Industri fashion secara keseluruhan menghadapi masalah pada beberapa bulan. Hal ini jika pembatasan perjalanan dan pekerjaan berlanjut di China akibat virus Corona. Negara Tirai Bambu ini disebut sebagai produsen tekstil terbesar di dunia.

Rush mengatakan London Fashion Week mengambil tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus dengan menyediakan sanitiser anti bakteri. “Kebersihan adalah prioritas. Ada anti bakteri di mana-mana,” katanya.

Ia juga mengatakan London Fashion Week memastikan jurnalis, pembeli dan influencer media sosial China yang tidak dapat hadir masih dapat bergabung.

“Kami telah menemukan mitra seperti Business of Fashion China untuk mendorong konten itu keluar,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa konten juga akan dipromosikan di platform media sosial China, seperti Weibo dan WeChat.

Kehadiran partisipasi China yang lebih rendah berpotensi menjadi pukulan besar bagi jenama-jenama fashion. Sebab, menurut Bain & Company, pengeluaran China menyumbang sepertiga dari penjualan pasar global mewah pada 2018.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA