Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Pola Konsumsi Ibu Saat Hamil Pengaruhi IQ Anak

Jumat 14 Feb 2020 07:44 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Reiny Dwinanda

Ibu hamil (Ilustrasi). Pola konsumsi ibu saat hamil, seperti merokok dan makan tak bergizi, dapat pengaruhi IQ anak.

Ibu hamil (Ilustrasi). Pola konsumsi ibu saat hamil, seperti merokok dan makan tak bergizi, dapat pengaruhi IQ anak.

Foto: Pixabay
Pola konsumsi ibu saat hamil, seperti merokok-makan tak bergizi, pengaruhi IQ anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Divisi Perkembangan Anak di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Dr Dwi Hastuti, mengatakan, kecerdasan intelektual (IQ) anak sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi sang ibu ketika hamil. Sebab, 50 persen otak anak terbentuk selama dalam kandungan.

Baca Juga

Dwi menjelaskan, bila yang dikonsumsi sang ibu selama masa kehamilan adalah produk tak bergizi atau malah beracun, maka itu juga yang dikonsumsi anak dalam kandungan. Ia pun menyerukan agar ibu hamil menjaga pola makan dan gaya hidupnya.
 
"Kalau ibunya makanannya buruk, ya anaknya makan buruk juga. Ibunya merokok, ya anaknya juga isap rokok," kata Dwi, Rabu (12/2).
 
Sejumlah bukti-bukti ilmiah, menurut Dwi, menunjukkan bahwa seorang ibu yang merokok, mengonsumsi minuman keras, dan memakai narkoba selama kehamilan akan melahirkan anak dengan IQ rendah. Dwi menegaskan, bila anak ber-IQ rendah atau kurang tangkas dalam urusan akademik, ada baiknya seorang ibu mengingat kembali perilakunya selama masa kehamilan.
 
"Kalau ibu menyalahkan anak, itu berarti menyalahkan diri sendiri," kata Dwi.
 
Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan, sekitar lima dari 10 ibu hamil di Indonesia yang mengalami anemia atau kurang darah berpotensi melahirkan anak stunting. Stunting merupakan kondisi seorang anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang baik atau masalah kekurangan gizi kronik pada masa awal pertumbuhannya.

"Ibu hamil 48,6 persen itu anemia. Dari 10 ibu hamil, hampir lima orang anemia. Kalau diasosiasikan kekurangan darah atau anemia, ini berakibat pada stunting, ya stuntingnya juga akan tinggi," kata Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Dhian Probhoyekti di Jakarta, Selasa (14/1).

Umumnya, anak stunting memang berperawakan lebih pendek dari tinggi badan normal untuk anak seusianya Stunting dinilai sangat mengancam masa depan anak. Oleh karena itu, kata Dhian, ibu hamil sangat dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah yang berisi suplemen gizi mikro berupa zat besi dan asam folat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA