Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

'Potensi Kopi Ciwidey Masih Sangat Besar'

Sabtu 01 Feb 2020 08:03 WIB

Red: Elba Damhuri

Kopi Ciwidey

Kopi Ciwidey

Foto: republika
Kopi Ciwidey punya potensi untuk eksis lebih kuat di pasar domestik dan luar negeri

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Denny Risnandi, Pemilik D'Gamboeng Coffee Bandung

Bagaimana bisa terjun ke bisnis kopi?
Awalnya saya tak ada kepikiran membuka usaha kopi, mengolah biji kopi dari petani sampai siap saji. Tapi karena seringnya saya berinteraksi dengan petani kopi di daerah Gambung Ciwidey akhirnya saya tahu apa yang menjadi masalah bagi para petani kopi ini. Kebanyakan mereka di Gambung ini hidup berada pada garis kemiskinan dan ada sebagian berada di bawah garis kemiskinan.

Apa masalah utama petani kopi di sana?
Permasalahan utama mereka adalah budaya boros dan tidak mengenal perencanaan. Akhirnya, potensi kopi yg sangat besar, kurang lebih 300 hektare, tidak maksimal mereka kelola.

Banyak di antara mereka malah terjerat rentenir dan kredit yang tidak berkesudahan. Sistem penjualan hasil kebun dengan cara ijon menjadi kebiasaan mereka bertransaksi. Tengkulak berkeliaran membeli komoditas kopi dengan harga rendah.

Dari sinilah saya coba ikut berupaya memperbaiki kebiasaan buruk mereka. Alhamdulillah, dari semenjak Agustus sampai September saya berhasil mengolah 5 ton biji kopi basah dari petani, dan semua saya bayar cash.

photo
Kopi Ciwidey: Denny Risnandi, Pemilik D'Gamboeng Coffee Bandung, Jawa Barat.


Kang Denny bikin sistem transaksi kopi yang baru?
Saya ciptakan sistem jual beli yg lebih baik dibanding ijon, saya tetapkan harga di atas para tengkulak, saya bina masyarakat petani untuk lebih hemat, menabung dan jujur dalam bertransaksi. 

Akhirnya lambat laun masyarakat mulai paham bagaimana berbisnis dengan baik dan benar, dan kepercayaanpun timbul dari mereka.

Bagaimana kondisi sekarang?
Sekarang saya stop pembelian biji kopi, selain karena modalnya sudah habis, musim panen pun sudah lewat. Sudah tidak ada lagi petani yang jual dalam partai besar. Paling ada 1 atau 2 kg yang mengirim biji kopi. Itu pun sudah kelas yang sangat standar.

Musim panen berikutnya Insya Allah sekitar bulan Juni-September 2020. Saya berharap stok kopi sekarang bisa terserap pasar, karena apabila tidak terserap, maka saya tidak bisa memutarkan modal yang dimiliki untuk terus membina para petani kopi Gambung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA