Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Pakar Ulas Alasan Virus Corona tak Ditemukan di Indonesia

Kamis 30 Jan 2020 20:46 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Penyebaran Virus Corona. Hingga saat ini pasien positif virus corona belum ditemukan di Indonesia.

Ilustrasi Penyebaran Virus Corona. Hingga saat ini pasien positif virus corona belum ditemukan di Indonesia.

Foto: MgIT03
Virus corona diketahui sensitif pada sinar ultraviolet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menegaskan hingga Kamis (30/1) tidak ada satupun kasus positif virus novel corona (nCoV) di Indonesia. Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina telah mengonfirmasi kasus positif.

Mengapa demikian? Ahli mikrobiologi FKUI dr. Fera Ibrahim, SpMK(K), MSc, PhD menjelaskan, bahwa virus dengan famili corona banyak terdapat di hewan dan manusia. Virus ini pertama kali ditemukan pada manusia pada tahun 1960, dan hingga sekarang telah diidentifikasi tujuh human coronavirus (HCov) termasuk MERS, SARS dan nCoV. Seperti SARS dan MERS, nCoV juga berasal dari hewan.

Menurut dr. Fera, jenis virus ini sensitif pada pemanasan atau sinar ultraviolet. Sehingga kemungkinan ini yang menyebabkan virus tidak berkembang di negara khatulistiwa seperti Indonesia.

"Virus corona sensitif terhadap pemanasan. Maka tidak heran kasus SARS cuma masuk satu dan tidak menyebar, karena kita punya sinar matahari yang bisa menonaktifkan virus," ujar dr Fera di Jakarta, Kamis (30/1).

Selain ketiga virus corona yang berbahaya (SARS, MERS, nCoV), masih banyak virus corona lainnya yang tidak berbahaya pada hewan dan manusia. Virus corona lainnya umumnya menyebabkan infeksi saluran pernafasan yang ringan.

Penularan virus corona secara umum melalui droplets atau percikan saat bersin atau batuk. Droplets dapat melampaui jarak tertentu (umumnya 1 m) pada permukaan mukosa yang rentan, karena ukurannya besar maka tidak akan bertahan lama di udara.

"Kalau bersin atau batuk akan mengeluarkan droplets atau aerosol yang partikelnya lebih kecil dan jaraknya lebih jauh. Makanya biasakan adab bersin dan batuk harus menutup mulut," kata dr. Fera.

Dokter spesialis paru RS Persahabatan dr. Erlina Burhan SpP(K), MSc, PhD menambahkan, virus ini tidak lebih berbahaya dibandingkan oleh MERS, SARS dan flu burung. Pada MERS tingkat kematian sebesar 30 persen, SARS 10 persen dan flu burung 80 persen.

Sementara itu, gejala infeksi saluran pernafasan hingga pneumonia umumnya disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur. Tingkat kematian karena pneumonia sekitar 2 persen, sama dengan nCoV.

"Yang membuat tiba-tiba heboh karena banyak yang kena," kata dr. Erlina.

Menurut dr Erlina, sejauh ini belum ada obat atau vaksin untuk virus corona, begitu juga MERS dan SARS. Hal yang bisa dilakukan adalah pengobatan sesuai gejala dan pencegahan agar virus ini tidak menular.

Dalam kesempatan yang berbeda, Deputi Bidang Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, dr. Agus Suprapto menjelaskan bahwa virus adalah self-limiting disease yang bisa disembuhkan sendiri dengan meningkatkan daya tahan tubuh. "Jadi mestinya dengan menjaga kebugaran dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, itulah kunci utama untuk melawan virus. Imunitas harus kita jaga dengan baik," kata Agus.

Hal ini dapat terlihat dari kasus kematian di China yang terjadi pada pasien dengan penyakit rentan seperti diabetes, darah tinggi dan strok.

Per hari ini, Kamis (30/1), virus novel corona telah menyerang sebanyak 7.864 orang dengan sebanyak 170 orang meninggal di China. Jumlah ini meningkat dari kematian 132 orang pada Rabu (29/1).


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 

TERPOPULER

Kamis , 01 Jan 1970, 07:00 WIB