Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Ibu Anak Kembar Berbagi Cerita Jalani Program Bayi Tabung

Kamis 30 Jan 2020 02:15 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda

Bayi tabung (ilustrasi). Teknologi bayi tabung (in-vitro fertilization/IVF) dikenal sebagai salah satu upaya program kehamilan yang membantu pasangan mendapatkan keturunan.

Bayi tabung (ilustrasi). Teknologi bayi tabung (in-vitro fertilization/IVF) dikenal sebagai salah satu upaya program kehamilan yang membantu pasangan mendapatkan keturunan.

Foto: Foto : Mardiah
Ibu anak kembar ini dua kali menjalani program bayi tabung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Teknologi bayi tabung (in-vitro fertilization/IVF) dikenal sebagai salah satu upaya program kehamilan yang membantu pasangan mendapatkan keturunan. Jochbeth Selvy Wairata (38 tahun) merupakan ibu dari anak kembar bernama Aron dan Alan (2).

Sebelum memiliki anak kembar, banyak lika-liku yang harus dilalui oleh Jochbeth dan suami. Jochbeth yang menikah di usia 35 tahun mengungkapkan, setelah satu tahun menikah, ia dan suami belum juga dikaruniai buah hati.

Akhirnya, mereka memutuskan pergi ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Jakarta. Pada saat konsultasi pertama, mereka diberikan vitamin.

"Biasanya, pertama dikasih asam folat untuk calon ibu, sementara untuk calon ayah ada sendiri. Tapi belum ada screening test. Gagal juga,” ujar Jochbeth usai acara acara Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC)  program "Harapan Dua Garis" di Akmani Hotel Jakarta, beberapa waktu lalu.

Langkah selanjutnya, Jochbeth dan suami menjalani screening test untuk inseminasi, yakni pemasukan sel sperma ke rahim istri. Saat itu, ia belum tahu dan belum ada bayangan sama sekali soal IVF.

Screening test pada 2016 itu memakan waktu tiga sampai lima hari. Hasilnya, rahim Jochbeth kering, kondisinya seperti perempuan usia 40 tahun, kering). Di lain sisi, suaminya tidak memiliki masalah yang signifikan.

Baca Juga

Jochbeth mengaku menjalani inseminasi sebanyak dua kali dengan jarak tiga bulan. Usaha itu tak membuahkan hasil.

Usai mencari informasi, Jochbeth memutuskan untuk melakukan IVF di Penang, Malaysia. Di sana, ia kembali menjalani screening test dan hasilnya anti mullerian hormon (amh), yakni hormon yang dihasilkan organ reproduksi Jochbeth dinyatakan rendah. Sedangkan suaminya dinyatakan oligoteratozoospermia alias jumlah spermanya sedikit dan bentuknya abnormal.

IVF pertama yang ia lakukan berbiaya total sekitar Rp 50 juta, termasuk biaya akomodasi. IVF pertama yang dijalani hasilnya gagal.

Jochbeth lalu dinyatakan positif hamil anak kembar setelah menjalani IVF kedua. Biaya total IVF kedua sekitar Rp 75 juta, juga termasuk biaya akomodasi.

Jochbeth menyarankan agar calon ibu yang menjalani program bayi tabung tetap melakukan kegiatan yang mereka sukai, seperti mencoba berbagai kuliner atau menonton film di bioskop. Calon ibu harus tetap bahagia.

"Be happy, otomatis membuat kita lupa akan menunggu hasil yang positif atau negatif,” katanya.

Jochbeth juga menyarankan perempuan yang menjalani IVF untuk berhenti mencari informasi melalui mesin pencarian di internet. Berkonsultasilah hanya dengan dokter atau suster yang menangani.

“Tanya saran ke dokternya saja atau ke susternya. Bisa juga bertanya ke grup komunitas IVF untuk mendapatkan masukan atau memompa semangat,” ujarnya.

Di samping itu, Jochbeth mengingatkan agar perempuan yang sedang berusaha hamil lewat program bayi tabung berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA