Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Corona Buat Dunia Mengabaikan Virus Berbahaya Lainnya

Rabu 29 Jan 2020 12:58 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Ironisnya, selama ini masyarakat di dunia tampak santai meski hidup 'sangat dekat' dengan virus lain yang juga mudah menular dan mematikan (Foto: masyarakat gunakan masker antisipasi corona)

Ironisnya, selama ini masyarakat di dunia tampak santai meski hidup 'sangat dekat' dengan virus lain yang juga mudah menular dan mematikan (Foto: masyarakat gunakan masker antisipasi corona)

Foto: Republika/Thoudy Badai
Padahal, sebelum ada corona, manusia 'terbiasa' dengan virus mematikan lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhatian dunia saat ini sedang tertuju kepada virus corona jenis baru 2019-nCoV yang telah menjangkiti lebih dari 2.700 orang dan menelan korban jiwa sebanyak 80 orang. Virus yang mudah menular dan dapat menyebabkan kematian seperti ini tentu memunculkan ketakutan dan kerisauan tersendiri di tengah masyarakat.

Ironisnya, selama ini masyarakat di dunia tampak santai meski hidup 'sangat dekat' dengan virus lain yang juga mudah menular dan mematikan. Virus tersebut adalah influenza yang menyebabkan penyakit influenza atau flu.

Berbeda dengan batuk-pilek biasa atau salesma, flu dapat memunculkan gejala yang berat. Beberapa di antaranya adalah demam tiba-tiba, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, malaise yang berat, sakit tenggorokan hingga hidung berair.

Gejala batuk akibat infeksi virus influenza dapat menjadi sangat berat dan bertahan hingga dua minggu atau lebih. Biasanya, penderita penyakit influenza bisa pulih dari demam dan gejala lain dalam waktu sekitar satu minggu tanpa bantuan medis khusus. Akan tetapi, penyakit influenza dapat menyebabkan kesakitan yang berat dan bahkan kematian, khususnya pada kelompok yang berisiko.

Data menunjukkan bahwa epidemi tahunan penyakit influenza diperkirakan sekitar 3-5 juta kasus dengan derajat keparahan yang berat. Selain itu, penyakit ini juga diperkirakan menyebabkan kematian sebanyak 290.000-650.000 kematian akibat masalah pernapasan.

"Bila kita berpikir tentang bahaya relatif dari virus corona baru dan influenza, tidak bisa dibandingkan. Virus corona tertinggal jauh bila dibandingkan," terang profesor di bidang ilmu kedokteran pencegahan dan aturan kesehatan di Vanderbilt University Medical Center Dr William Schaffner, seperti dilansir Health Leaders Media, Rabu (29/1).

Namun meski kasus dan kematian akibat penyakit influenza lebih besar, penyakit menular ini jarang mendapatkan perhatian besar. Bahkan di Amerika, penyakit ini tak banyak mendapatkan perhatian meski virus influenza membunuh lebih banyak orang Amerika dalam satu tahun dibandingkan virus-virus lainnya.

Berbeda dengan penyakit seperti pneumonia yang disebabkan 2019-nCoV, penyakit influenza sudah memiliki vaksin. Vaksin influenza disarankan untuk diperbarui setiap tahun karena tiap tahun strain virus influenza yang beredar cenderung berbeda-beda. Meski bisa dicegah, minat terhadap vaksin influenza masih terbilang rendah.

Beberapa dokter menilai penyakit influenza tampak familiar dan banyak diketahui oleh masyarakat dunia. Karena merasa terbiasa inilah, orang-orang cenderung menganggap remeh atau mengabaikan virus dan penyakit influenza.

Sebaliknya, virus corona jenis baru 2019-nCoV hadir sebagai sesuatu yang baru dan misterius. Terlebih, virus ini berasal dari tempat yang eksotis. Oleh karena itu, kemunculan virus ini menciptakan kecemasan di tengah masyarkaat.

"Kita seharusnya mengganti nama influenza, sebut dengan nama virus XZ-47 atau sebutan lain yang lebih menakutkan (untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap influenza)," canda Direktur Vaccine Education Center di Children's Hospital of Philadelphia Dr Paul Offit.

Selain itu, sebagian orang juga tidak terlalu khawatir dengan virus influenza karena adanya vaksin. Keberadaan vaksin dapat memberi ilusi kepada orang-orang bahwa mereka memegang kendali terhadap virus tersebut. Padahal cakupan vaksinasi flu masih terbilang rendah.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA