Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Alasan Stunting tak Hanya Dialami Keluarga Miskin

Rabu 29 Jan 2020 06:06 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Faktor perilaku, pengetahuan, dan daya beli bisa mempengaruhi stunting.

Faktor perilaku, pengetahuan, dan daya beli bisa mempengaruhi stunting.

Foto: Mgrol100
Faktor pengetahuan juga turut mempengaruhi stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stunting atau masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi kurang dalam waktu lama tidak hanya terjadi di pedesaan tetapi juga di perkotaan. Selain itu, stunting juga tidak hanya dialami oleh kalangan bawah tetapi juga keluarga dengan tingkat ekonomi yang baik.

"Kalau di pedesaan memang tidak mampu beli, contohnya. Tetapi kalau orang yang punya uang ini tahu tapi tidak mempraktikkan, lebih kepada behavior," ungkap Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN,  Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University dalam acara Royco Nutrimenu di Jakarta.

Menurutnya, masalah gizi ini terkadang bersifat tersembunyi dalam artian banyak orang merasa tidak ada masalah dengan gizi mereka. Padahal, gizi tidak seimbang bisa menyebabkan masalah kesehatan maupun gangguan kognitif.

Kasus masalah gizi ini hampir sama rata antara keluarga miskin maupun menengah ke atas. Untuk kalangan menengah ke atas, biasanya faktor tindakan adalah yang utama, karena kebanyakan mereka sudah terinformasi, artinya punya pengetahuan tetapi tidak atau kesulitan melakukan.
 
"Contohnya, orang tahu alpukat mengandung asam lemak tidak jenuh dan bagus untuk tubuh, tetapi orang yang mampu membeli belum tentu mau memakannya. Faktor perilaku inlah yang sebenarnya lebih personal," ujarnya.

Stunting tidak hanya ditemukan di pedesaan tetapi juga terjadi di perkotaan. Ada setidaknya 160 daerah yang tengah menjadi perhatian pemerintah untuk menekan angka stunting, seperti Garut, Cianjur  Karawang, Tasikmalaya dan Kabupaten Bogor untuk Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, saat ini Indonesia mengalami ketidakseimbangan gizi di mana lebih dari  23 juta anak mempunyai masalah dengan gizi tidak seimbang, dengan indikator besarnya angka stunting dan obesitas pada anak.

Prof Dodik juga menjelaskan mengenai hasil riset edukasi yang telah dilakukan. Keseluruhan penelitian menunjukkan bahwa program Royco Nutrimenu “Ayo Masak Lezat sesuai Isi Piringku” telah memberikan peningkatan signifikan bagi pengetahuan gizi, sikap dan praktik para Ibu, untuk memasak sesuai panduan Isi Piringku. Bahkan sekitar tiga per empat peserta atau 75 persen kini sudah dapat menyusun porsi pangan sumber karbohidrat, lauk pauk, sayuran dan buah dengan benar.

Royco Nutrimenu juga memperkenalkan bahan-bahan masakan yang termasuk dalam 50 Bahan Pangan Masa Depan untuk menginspirasi Ibu mempersiapkan masakan yang lezat, sehat dan terjangkau. Beberapa bahan yang termasuk di dalamnya adalah Bayam, Pak Choi, Daun Kelor, Selada Air, Okra, Ubi Jalar dan Kacang Hijau.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA