Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Jangan Panik Hadapi Virus Corona

Senin 27 Jan 2020 19:02 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Indira Rezkisari

Petugas keamanan menggunakan masker di depan Ruang Isolasi Infeksi Khusus Kemuning, untuk pasien yang terkena virus corona di RSUP Hasan Sadikin, Kota Bandung, Senin (27/1).

Petugas keamanan menggunakan masker di depan Ruang Isolasi Infeksi Khusus Kemuning, untuk pasien yang terkena virus corona di RSUP Hasan Sadikin, Kota Bandung, Senin (27/1).

Foto: Abdan Syakura_Republika
Masyarakat diimbau melakukan langkah pencegahan virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, SURAKARTA — Pada awal 2020 masyarakat dunia digegerkan oleh wabah penyakit mematikan yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCov) atau yang kian dikenal dengan sebutan virus corona. Virus corona pertama ditemukan di wilayah Wuhan, China.

Dalam waktu yang tidak lama, masyarakat global pun disibukkan oleh upaya-upaya pencegahan terhadap penyebaran virus corona yang menular dari manusia ke manusia tersebut, tak terkecuali Pemerintah Republik Indonesia (RI).

Masyarakat diimbau tidak perlu panik, meski kemungkinan penyebaran virus corona melalui sejumlah pintu gerbang internasional (seperti bandara maupun pelabuhan internasional) tetap terbuka. “Sepanjang masyarakat memahami gejala, karakteristik serta cara-cara pencegahannya, masyarakat penting melakukan beberapa antisipasi secara mandiri terhadap ancaman penyebaran virus corona,” kata Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr Reviono dr SpP(K), Senin (27/1).

Menurut dia, virus corona merupakan virus baru penyebab penyakit saluran pernapasan. Virus ini memiliki kedekatan dengan virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Penularan virus corona ini, lanjut Reviono, sangat cepat, terutama melalui manusia ke manusia. Sehingga masyarakat harus mengetahui gejala klinis apa saja yang perlu diwaspadai guna mencegah penyebaran virus corona tersebut.

Gejalanya meliputi batuk, demam, kesulitan bernapas. Lalu ada riwayat kontak dengan pasien positif terkena virus corona serta yang bersangkutan punya riwayat melakukan bepergian ke luar negeri.

“Jika ada yang mengalami gejala seperti itu, segera periksakan diri ke pelayanan kesehatan atau rumah sakit, supaya bisa segera bisa dicek dan memperoleh tindakan medis yang semestinya,” kata dekan Fakultas Kedokteran UNS ini.

Ia juga menyampaikan, terdapat beberapa tip yang bisa dilakukan untuk mencegah virus corona. Yakni dengan membiasakan diri melakukan cuci tangan yang bersih dengan sabun antiseptik, terutama setelah habis bepergian, karena kebiasaan mencuci tangan ini sangat penting. “Karena tangan kita kan sering menyentuh pegangan pintu, pegangan tangga dan lainnya, maka dikhawatirkan tangan kita bisa terkena virus,” katanya.

Selain itu, juga penting selalu menggunakan masker saat keluar rumah, mengonsumsi gizi seimbang, memperbanyak asupan sayur dan buah, menjaga kebugaran tubuh, menghindari sumber infeksi, rajin olahraga dan istirahat cukup.

Sangat tidak disarankan mengonsumsi daging yang tidak dimasak. “Jika sedang menderita flu, jangan keluar rumah supaya tidak jadi sumber infeksi,” katanya.

Reviono juga menyampaikan, di Indonesia, belum ditemukan kasus penderita yang positif terjangkit virus corona ini. Namun, pemerintah telah siaga dalam menyikapi penyebaran virus corona ini.

Misalnya dengan menutup sementara penerbangan dari dan ke China serta memasang alat detektor panas tubuh, di pintu kedatangan yang ada di sejumlah bandara internasional di Tanah Air. Melalui cara ini, jika ada seseorang yang positif terinfeksi virus corona, suhu tubuh bakal meningkat. Sehingga di beberapa bandara telah memasang alat ini untuk mendeteksi mereka yang telah terinfeksi virus corona.

Kasus virus corona di Wuhan, China, telah menelan korban jiwa mencapai puluhan orang yang kebanyakan merupakan orang tua dengan penyakit penyerta. Sedangkan 80 persen penderita dinyatakan sembuh karena tidak ada penyakit penyerta dan rata-rata usianya tergolong masih muda.

Sebanyak 80 persen pasien yang terinfeksi virus corona di China bisa sembuh dengan sendirinya. Karena memang belum ada vaksin khusus yang bisa digunakan untuk melawan virus corona.

Sebagai contoh jika seseorang terkena flu, tidak minum obat pun juga bisa sembuh karena virus dengan umurnya bisa mati sendiri. Di lain pihak, di dalam tubuh manusia juga terdapat interferon, yaitu protein alami yang diproduksi oleh tubuh sebagai respons tubuh dalam melawan senyawa-senyawa berbahaya, seperti virus.

Jika produksi interferon cukup, virus bisa terkendali pertumbuhannya dan mati sendiri. “Namun, kalau sudah berusia tua dan ada penyakit yang disertai, produksi interferon tidak cukup optimal dan virus bisa tumbuh terus,” katanya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA