Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Pentingnya Bermain Bagi Perkembangan Otak

Senin 27 Jan 2020 11:51 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Anak-anak saat bermain di Alun-alun Kota Depok, Jawa Barat, Senin (27/1). Bermain terbukti efektif bagi perkembangan otak anak.

Anak-anak saat bermain di Alun-alun Kota Depok, Jawa Barat, Senin (27/1). Bermain terbukti efektif bagi perkembangan otak anak.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Permainan bisa merangsang sel-sel saraf otak untuk membuat koneksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi seorang anak, bermain adalah segalanya. Faktanya, kesehatan mental anak tidak hanya diwujudkan melalui nilai dan prestasi sekolah, tetapi juga melalui berbagai parameter penting lainnya yang perlu diperhatikan orang tua, termasuk bermain.

Dikutip laman Indian Express, kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh anak-anak, seperti komunikasi dengan anggota keluarga, kebiasaan makan, jam tidur, praktik sosialisasi, adalah cara yang lebih baik untuk mengetahui status kesehatan mental anak. Meskipun manifestasi dari pikiran yang sehat terlihat dalam hampir setiap tugas yang dilakukan tubuh manusia.

Tapi beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan mental anak-anak. Dan bermain, tentu saja, berada di daftar puncak.

Mengapa bermain itu penting? Pernahkah orang tua memperhatikan bahwa permainan sebagian besar dipilih sendiri dan diarahkan sendiri? Bermain tidak pernah dipaksakan pada anak, selalu karena pilihan.

Ini adalah kegiatan yang berarti lebih dihargai. Permainan bisa merangsang sel-sel saraf otak untuk membuat koneksi yang lebih cepat satu sama lain.

"Dalam enam tahun pertama kehidupan, 80 persen perkembangan otak selesai. Berkali-kali, penelitian telah membuktikan bahwa semakin banyak keadaan pikiran yang menyenangkan dalam enam tahun pertama, semakin kuat pertumbuhan otak manusia," tulis laporan.

Bahkan dalam studi tentang remaja, kegiatan bermain ditemukan berpengaruh dalam pertumbuhan lobus frontal yang merupakan pusat perencanaan dan pengambilan keputusan.

Peter Gray dalam bukunya 'Free to Learn', menjelaskan bahwa bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan sendiri daripada untuk mencapai tujuan kesuksesan dunia nyata. Dengan demikian, permainan melibatkan keadaan pikiran yang aktif, waspada tetapi tidak stress. Tidak ada yang bisa dicapai pada akhirnya, karena proses permainan itu sendiri adalah bersifat sepadan.

Singkatnya, untuk seorang anak, bermain dan bermain adalah segalanya. Dari keterampilan hidup dasar hingga fungsi eksekutif otak manusia, semuanya paling baik dipelajari melalui permainan. Menurut Dr Gray, melalui permainan, anak-anak terhubung dengan minat mereka sendiri, belajar membuat keputusan, belajar untuk menangani emosi mereka, berteman, dan yang paling penting, mendapatkan kebahagiaan.

Kekuatan bermain dalam kehidupan seorang anak adalah di luar kata-kata dan tak tergantikan. Pada tahun 1999, Sugata Mitra, lelaki di balik percobaan 'hole in the wall' yang sangat terkenal menunjukkan bahwa anak-anak dari segala usia, kelompok, kasta, kepercayaan, budaya dan status sosial ekonomi dapat belajar mengoperasikan komputer dengan menjelajahi sendiri dalam sebuah keadaan pikiran yang menyenangkan, bahkan tanpa kemahiran bahasa Inggris.

Dalam percobaan, Mitra dan timnya hanya menempatkan komputer melalui lubang di dinding daerah kumuh di India dan memungkinkan anak-anak untuk menjelajah. Pertumbuhan signifikan yang dihasilkan dalam keterampilan dasar sains dan matematika anak-anak melalui penggunaan internet di komputer menyoroti fakta bahwa otak anak-anak berfungsi paling baik dalam keadaan bermain-main.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA