Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Cegah Corona Meluas, Disneyland Shanghai Ditutup

Sabtu 25 Jan 2020 00:45 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari

Disneyland Shanghai terpaksa tutup saat libur Imlek untuk mencegah penyebaran virus corona.

Disneyland Shanghai terpaksa tutup saat libur Imlek untuk mencegah penyebaran virus corona.

Foto: EPA
Disneyland Shanghai ditutup karena biasanya selalu dipadati pengunjungi saat Imlek.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Wabah corona jenis baru di China kian meluas. Guna mencegah penyebaran virus corona, Pemerintah Shanghai China memutuskan untuk menutup Disneyland Shanghai mulai Sabtu (25/1).

Keputusan menutup Disneyland dinilai tepat, mengingat selama momen libur Tahun Baru Imlek Disneyland berpotensi “diserbu” masyarakat. Tahun lalu saja, taman hiburan yang berkapasitas 100 ribu orang itu dipadati masyarakat selama libur Imlek.

Pihak berwenang China juga telah mengimbau masyarakat untuk menghindari keramaian. Reuters melaporkan pada Jumat (24/1) bahwa di kota Zhijiang China, semua tempat publik telah ditutup. Kecuali rumah sakit, beberapa pasar, pom bensin dan toko obat. Sementara di Wuhan, pemerintah setempat telah menutup sementara akses transportasi umum.

Di Beijing, beberapa kuil terkenal juga ditutup sejak Jumat (24/1). Beijing telah membatalkan dua pameran kuil Tahun Baru Imlek, dan menutup objek wisata paling terkenal di sana yakni Kota Terlarang (Forbidden City).

Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan pada Jumat (24/1) bahwa jumlah kematian akibat virus corona baru bertambah menjadi 25 orang. Virus corona juga telah menginfeksi lebih dari 800 orang di China.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan bahwa virus korona baru sebagai “keadaan darurat bagi China”. Namun, WHO belum menjadikan wabah ini sebagai keadaan darurat global.

Kendati demikian, kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, keputusan itu tidak boleh diambil sebagai tanda bahwa WHO tidak menganggap situasinya serius. “Jangan salah, meskipun ini darurat di China. Ini belum menjadi darurat kesehatan global,” kata Tedros, dikutip dari Reuters.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA