Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Stres Ibu Terkait Kondisi Janin Bisa Bahayakan Otak Bayi

Kamis 23 Jan 2020 16:46 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Ibu hamil (Ilustrasi). Stres pada ibu hamil terkait kondisi janinnya bisa pengaruhi perkembangan otak bayi.

Ibu hamil (Ilustrasi). Stres pada ibu hamil terkait kondisi janinnya bisa pengaruhi perkembangan otak bayi.

Foto: Pixabay
Stres pada ibu hamil terkait kondisi janinnya bisa pengaruhi perkembangan otak bayi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir semua calon ibu memiliki kecemasan tersendiri terhadap bayi yang ada dalam perut. Terlebih ketika ada penyakit yang telah terdeteksi sejak buah hati masih berada dalam kandungan.

Dilansir Health 24, penyakit jantung bawaan atau masalah struktural pada jantung merupakan salah satu cacat lahir yang paling umum terjadi. Dalam sebuah penelitian diketahui bahwa stres, kecemasan, dan depresi ibu hamil terkait kondisi janinnya ternyata bisa memengaruhi perkembangan otak bayi.

"Kami terkejut dengan tingginya persentase perempuan hamil dilanda stres, kecemasan, dan depresi terkait janin dengan masalah jantung,” ujar rekan penulis studi Catherine Limperopulos, direktur Pusat Pengembangan Otak di Children’s National Hospital di Ibu Kota Washington, Amerika Serikat (AS).

Menurut Limperopulos, lingkungan prenatal yang menantang seperti itu merusak area otak janin yang memainkan peran utama dalam pembelajaran, memori, koordinasi, dan pengembangan sosial, serta perilaku. Hal ini menyiratkan pentingnya pemantauan terhadap kondisi kesehatan mental para calon ibu sejak awal kehamilan.

"Sangat penting bahwa kami secara rutin melakukan pemeriksaan ini dan memberi perempuan hamil akses ke intervensi untuk menurunkan tingkat stres mereka," jelas Lumperopulos.

Penelitian ini melibatkan 48 ibu hamil yang janinnya didiagnosis menderita penyakit jantung bawaan. Sementara itu, kelompok kontrol terdiri dari 92 ibu hamil yang tidak mengalami komplikasi.

Baca Juga

Hasilnya, sebanyak 65 persen perempuan dengan janin yang didiagnosis mengalami penyakit jantung bawaan dinyatakan positif mengalami stres. Sementara itu, sebanyak 44 persen dinyatakan positif mengalami kecemasan dan 29 persen mengalami depresi.

Tingkat pada kelompok kontrol adalah 72 persen untuk stres, 26 persen kecemasan dan 9 persen depresi. Pencitraan MRI otak janin dilakukan antara 21 dan 40 minggu kehamilan.

Di antara perempuan yang mengandung bayi dengan penyakit jantung bawaan, stres dan kecemasan pada trisemester kedua dikaitkan dengan janin yang memiliki hippocampus kiri lebih kecil serta otak lebih kecil. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa stres sebenarnya menyebabkan perbedaan perkembangan otak tersebut.

Bagian-bagian tertentu dari otak, kepala serta tubuh hippocampus serta lobus serebelar kiri, lebih rentan terhadap pertumbuhan yang terhambat. Menurut para peneliti, hippocampus sangat penting dalam memori dan pembelajaran, sementara otak kecil mengendalikan koordinasi motorik dan juga terlibat dalam perkembangan sosial dan perilaku. Hasil studi ini dipublikasikan secara daring di jurnal JAMA Pediatrics.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA