Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Pernyataan Mengejutkan dari Perempuan AS Perihal Aborsi

Selasa 21 Jan 2020 14:35 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Studi dari University of California menemukan bahwa lima tahun setelah aborsi, 84 persen wanita masih mengatakan bahwa aborsi adalah keputusan yang tepat (Foto Ilustrasi)

Studi dari University of California menemukan bahwa lima tahun setelah aborsi, 84 persen wanita masih mengatakan bahwa aborsi adalah keputusan yang tepat (Foto Ilustrasi)

Foto: Pixabay
Sebuah studi terkait aborsi dilakukan University of California di 21 negara bagian AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi dari University of California menemukan bahwa lima tahun setelah aborsi, 84 persen wanita masih mengatakan bahwa aborsi adalah keputusan yang tepat. Hal ini seakan menjadi bantahan bagi pihak kontra aborsi, yang selalu berargumen bahwa praktik aborsi merugikan perempuan dengan menyebabkan emosi atau penyesalan yang negatif.

Para peneliti mensurvei 667 wanita yang melakukan aborsi di 21 negara bagian di AS. Survei dilakukan satu pekan setelah peserta melakukan aborsi, dan setiap enam bulan sekali selama lima tahun pascaaborsi. Pada akhir periode itu, 84 persen wanita mengaku memiliki perasaan positif atau netral tentang pilihan mereka untuk aborsi.

"Kami tidak menemukan bukti emosi negatif yang muncul tentang aborsi selama lima tahun. Faktanya, dari semua emosi yang kami lihat, kelegaan tetap yang paling sering dilaporkan setiap saat, bahkan lima tahun,” kata pemimpin studi Corinne Rocca dari University of California, San Francisco seperti dilansir Reuters, Selasa (21/1).

Untuk analisis saat ini, para peneliti bertanya kepada wanita yang melakukan aborsi sejauh mana mereka merasakan emosi seperti lega, bahagia, menyesal, bersalah, sedih dan marah. Mereka juga bertanya kepada wanita apakah mereka masih menganggap pilihan yang mereka buat adalah pilihan yang tepat.

Rocca memang menemukan, ada setengah dari peserta mengaku keputusan aborsi menjadi sangat sulit atau cukup sulit. Namun perasaan sulit itu timbul karena para wanita takut akan stigma negative dari lingkungan yang bakal dilekatkan padanya jika ia melakukan aborsi.

Ketika ditanya tentang emosi apa yang dirasakan pascaaborsi, 51 persen wanita merasakan emosi positif tentang keputusan mereka, lalu 17 persen peserta merasakan emosi negatif dan 12 persen lainnya merasa campuran antara kedua emosi. Sedang 20 persen lainnya melaporkan merasa sedikit emosi, atau tidak sama sekali, terkait dengan keputusan mereka.

Adapun ketika ditanya apakah pilihan aborsi adalah keputusan tepat, satu pekan setelah aborsi 98 persen menjawab mereka merasa telah membuat keputusan yang tepat. Begitupun setelah 5 tahun pascaaborsi, 99 persen wanita merasa itu adalah keputusan tepat.

Setelah lima tahun pascaaborsi, kemarahan adalah satu-satunya emosi yang lebih umum di antara peserta. Itu lantaran mereka sering menerima stigma negative dari lingkungan terkait keputusan aborsi.

“Yang perlu dicatat adalah bahwa aborsi tidak menyebabkan penyesalan keputusan atau emosi negatif. Emosi negatif atau penyesalan tidak muncul dari waktu ke waktu setelah aborsi, bahkan wanita merasa keputusan itu adalah keputusan yang tepat bahkan setelah 5 tahun pascaaborsi,” kata Julia Steinberg, seorang peneliti di University of Maryland, College Park, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA