Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Selasa, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 Februari 2020

Starbucks Perluas Gerai di Wilayah Berpenghasilan Rendah

Senin 20 Jan 2020 04:05 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Starbucks sebagai perusahaan dan jaringan kedai kopi global asal Seattle, Amerika Serikat (AS) berencana memperluas lebih banyak toko di area lingkungan menengah ke bawah.

Starbucks sebagai perusahaan dan jaringan kedai kopi global asal Seattle, Amerika Serikat (AS) berencana memperluas lebih banyak toko di area lingkungan menengah ke bawah.

Foto: Reuters/Keith Bedford
Starbucks juga akan merekrut warga lokal sebagai pegawai.

REPUBLIKA.CO.ID, SEATTLE -- Starbucks sebagai perusahaan dan jaringan kedai kopi global asal Seattle, Amerika Serikat (AS) berencana memperluas lebih banyak toko di area lingkungan menengah ke bawah. Dilansir melalui foxnews, Senin (20/1), dengan langkah yang disebut bertujuan untuk bertanggung jawab secara sosial ini, akan lebih banyak lapangan pekerjaan yang terbuka bagi orang-orang dari komunitas berpenghasilan rendah.

Menurut Brett Theodos dari Urban Institute yang mempelajari perkembangan ekonomi, sejumlah toko komunitas Starbucks di Chicago dan Baltimore telah ia datangi. Di sana, tersedia layanan serta satu yang sangat penting adalah pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.

“Saya tak bisa membayangkan langkah mendorong ke lingkungan dan pasar yang memiliki daya beli lebih sedikit. Starbucks biasanya hadir di lingkungan yang memiliki daya beli untuk mendukungnya,” ujar Theodos.

Theodos memuji langkah Starbucks untuk menambah ruang komunitas di toko-toko, karena lingkungan berpenghasilan rendah sering tidak memiliki banyak tempat untuk berkumpul. Ia juga menilai bahwa rencana ini tak akan menimbulkan dampak besar.

Starbucks berencana untuk membuka atau merombak kembali 85 toko kopi di komunitas pedesaan dan perkotaan di seluruh AS pada 2025. Nantinya, setiap toko akan mempekerjakan staf lokal, termasuk kru konstruksi seniman, serta akan memiliki ruang untuk acara komunitas yang diselenggarakan.

Perusahaan ini juga akan bekerjasama dengan cabang-cabang United Way lokal untuk mengembangkan program di setiap toko, seperti kelas pelatihan kerja anak-anak muda. Upaya itu akan membawa jumlah "toko komunitas" yang telah dibuka Starbucks menjadi 100, sejak mengumumkan program ini pertama kalinya pada 2015.

Starbucks mengatakan sebagian besar dari 85 toko akan menjadi toko baru, sementara beberapa toko akan menjadi toko lama yang telah direnovasi. Perusahaan akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk tingkat pengangguran kaum muda dan pendapatan rumah tangga yang rendah, dalam memutuskan di mana membangunnya. Prioritas juga diberikan pada daerah-daerah yang mengalami kesulitan ekonomi.

Starbucks membuka toko komunitas pertamanya di Ferguson, Missouri, pada 2016, hanya dalam dua tahun setelah kerusuhan yang meletus karena penembakan seorang remaja kulit hitam berusia 18 tahun oleh seorang polisi kulit putih. Sejak itu, ada 13 lokasi lainnya yang dibuka, diantaranya di Baltimore, Chicago, Dallas, New Orleans dan Jonesboro, Georgia.

Diperkirakan, sebanyak lebih dari 300 lapangan pekerjaan terbuka dengan adanya program toko komunitas Starbucks. Wakil Presiden Eksekutif Starbucks, John Kelly mengatakan toko-toko ini mencerminkan kepercayaan perusahaan pada kapitalisme yang bertanggung jawab.

Toko komunitas bersifat menguntungkan, bahkan menu yang tersedia persis sama dengan toko Starbucks konvensional. Harga bervariasi namun tidak banyak, sebagai contoh grande coconut milk latte di Ferguson dijual dengan harga 4,95 dolar AS, sementara enam mil dari sana ada toko Starbucks konvensional di  University City mengenakan harga 5,25 dolar AS untuk jenis minuman yang sama.

“Ini bukanlah kegiatan amal, ini adalah toko yang sukses. Kami  menentang banyak stereotip, dan kami bangga melakukannya,” jelas Kelly.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA