Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Tuesday, 24 Jumadil Akhir 1441 / 18 February 2020

Storynomics Tourism Dinilai Cocok Diterapkan di Indonesia

Sabtu 18 Jan 2020 01:01 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Christiyaningsih

Wisatawan berada di kawasan Pantai Bebas Danau Toba, Parapat, Simalungun, Sumatera Utara. Storynomics tourism diyakini mempercepat akselerasi pembangunan industri pariwisata. Ilustrasi.

Wisatawan berada di kawasan Pantai Bebas Danau Toba, Parapat, Simalungun, Sumatera Utara. Storynomics tourism diyakini mempercepat akselerasi pembangunan industri pariwisata. Ilustrasi.

Foto: Antara/Irsan Mulyadi
Storynomics tourism diyakini mempercepat akselerasi pembangunan industri pariwisata

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi tengah digodok oleh pemerintah. Konsep storynomics tourism ini diyakini akan mempercepat akselerasi pembangunan industri pariwisata di Indonesia khususnya di kawasan destinasi super prioritas.

Pendiri SGB, platform digital pariwisata Singapura, Tatiana Gromenko menilai konsep itu sebagai ide yang brilian. Menurutnya, Indonesia sama seperti halnya Singapura yang memiliki banyak konten menarik terkait tempat wisatanya sehingga perlu dinarasikan dengan kreatif dan memikat.

“Misalnya, selama ini orang Indonesia yang datang ke Singapura rata-rata karena ingin berbelanja dan menikmati human-made attraction yang ada di Singapura. Padahal begitu banyak kisah-kisah di balik tempat-tempat unik di Singapura yang menarik untuk dielaborasi oleh wisatawan," kata dia dalam pesan tertulis belum lama ini.

Tatiana pun mencontohkan peninggalan perang dunia seperti Battlebox yang sarat cerita menarik di balik pembangunannya. Ini merupakan tempat bawah tanah anti bom yang dibangun Inggris komando Malaya. Selama ini tidak banyak yang tahu tentang cerita apa di balik tempat wisata ini.

Tatiana menambahkan, Indonesia yang memiliki ribuan destinasi wisata menarik serta kaya akan warisan historis, geologis, dan geografis tentu memiliki bobot yang lebih kuat untuk menggunakan pendekatan ini. “Sebagai orang yang pernah tinggal di Indonesia dan berkeliling ke berbagai daerah di sana, saya tahu persis bahwa negara ini memiliki kekayaan wisata yang sangat luas," ungkapnya.

Danau Toba misalnya, tidak banyak yang mengetahui tentang  kisah di balik terbentuknya danau terbesar di Asia Tenggara ini. Mulai dari letusan gunung vulkanik yang asapnya mencapai 10 kilometer di atas permukaan laut dan memusnahkan spesies dan manusia pada saat itu. "Warisan geologis ini menarik untuk diceritakan ke wisatawan luar seperti saya," tutur dia.

Meski konsep ini sangat bagus untuk diaplikasikan, namun apabila tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai seperti kebersihan, kualitas lingkungan, keamanan, keselamatan, dan sebagainya maka strategi pemasaran tersebut akan sia-sia. Tatiana berharap agar Singapura dan Indonesia bisa bekerja sama ke depannya dalam membantu industri pariwisatanya masing-masing dengan menggunakan konsep storynomics seperti ini.

“Apalagi letak geografis dua negara ini sangat berdekatan, jadi sangat layak untuk bisa berkolaborasi di industri ini,” kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA