Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Bahaya Gula untuk Kesehatan Pencernaan

Kamis 16 Jan 2020 09:30 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Terlalu banyak asupan gula, kesehatan pencernaan bisa terganggu.

Terlalu banyak asupan gula, kesehatan pencernaan bisa terganggu.

Foto: EPA
Terlalu banyak asupan gula, kesehatan pencernaan bisa terganggu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang mulai mengurangi konsumsi gula karena ingin menghindari penyakit diabetes, obesitas, dan penyakit lainnya. Tapi, belum banyak yang menyadari bahwa memangkas asupan gula juga baik untuk pencernaan.

“Saat ini masih belum banyak orang yang sadar akan pengaruh gula yang berlebih kepada kesehatan pencernaan,” ujar dokter spesialis gizi klinik, Marya Haryono, dalam acara peluncuran Heavenly Blush Happy Tummy Yogurt Drink Sugar Free dengan tema "Bahaya Gula untuk Pencernaan" di Jakarta, belum lama ini.

Penelitian dari Oregon State University di Amerika Serikat pada tahun 2013 menunjukkan bahwa bakteri jahat di dalam usus akan berkembang biak dengan pesat apabila terus menerus diberi asupan gula. Kondisi ini akan mengancam bakteri baik di dalam usus sehingga menganggu kinerjanya menjaga kesehatan pencernaan.

Baca Juga

“Gula yang dikonsumsi, kalau kelebihan tidak hanya obesitas, gendut, tapi juga memengaruhi keseimbangan bakteri dalam usus,” ujar Marya.

Konsumsi gula, menurut Marya, memang banyak sekali dampaknya. Tingginya kadar gula dalam makanan otomatis akan membuat saluran cerna akan menyerap dan membuat gula dalam darah langsung tinggi naik.

Gula tidak hanya berpengaruh pada diabetes, obesitas tapi juga mengatur keseimbangan bakteri jahat dan baik. Alih-alih mengonsumsi gula lebih banyak, lebih baik dapatkan makanan yang cukup serat.

"Dikonsumsi terlalu banyak, gula akan memengaruhi jumlah bakteri dalam saluran cerna bagian usus besar," jelas Marya.

Dalam jumlah yang cukup, bakteri akan memengaruhi produksi hormon. Selain itu, keseimbangan bakteri di pencernaan juga akan membantu mengontrol makan dengan memunculkan rasa kenyang.

Beberapa jam kemudian, orang harus makan kembali, karena tubuh memang butuh makanan. Hanya saja, ketika kontrol hormon rusak, itu tandanya keseimbangan bakteri dalam saluran cerna telah buyar.

Marya mengungkapkan, stres, pola konsumsi tinggi gula, dan gizi tidak seimbang menjadi masalah yang jamak terjadi pada masyarakat. Menurutnya, ada baiknya mengonsumsi tambahan bakteri dari yogurt atau sumber lainnya.

"Selan itu, konsumsi serat makanan yang cukip baik dari buah dan sayur atau kacang-kacangan," ujarnya.

Selama ini, banyak orang kurang paham tentang gula. Mereka hanya mengira gula adalah gula pasir.

"Padahal, gula ada yang ngumpet entah di snack, minuman kemasan, kue, dan lainnya," ucap Marya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA