Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Benarkah Mengantuk Setelah Makan Tanda Diabetes?

Rabu 15 Jan 2020 00:29 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Mengantuk setelah makan siang. Orang kerap mengira mengantuk setelah makan adalah pertanda diabetes.

Mengantuk setelah makan siang. Orang kerap mengira mengantuk setelah makan adalah pertanda diabetes.

Foto: Flickr
Orang kerap mengira mengantuk setelah makan adalah pertanda diabetes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKART A-- Sebagian orang mungkin pernah merasakan kantuk sesaat setelah makan. Rasa kantuk yang datang setelah makan diyakini sebagai salah satu gejala diabetes. benarkah?

"Itu 50:50 sih, kita tidak bisa bilang begitu," jelas pendiri komunitas Sobat Diabet dr Rudy Kurniawan dalam konferensi pers Sun Life Resolution Run 2020 bersama Sun Life Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Secara umum, menurut Rudy, saluran cerna cenderung lebih aktif setelah makan dan menggunakan energi untuk mencerna makanan. Sebaliknya, beberapa bagian tubuh lain menjadi relatif kurang aktif.

"Yang di kepala, di tempat lain, cenderung relatif lebih kurang (aktif), jadi itu bikin ngantuk," jelas Rudy.

Di sisi lain, mengantuk setelah makan juga bisa terjadi akibat makan terlalu banyak. Rasa mengantuk akibat makan terlalu banyak ini juga bisa dirasakan oleh orang-orang prediabetes.

"Karena ketidakseimbangan kadar gula darah yang dikonsumsi dengan yang dipecah untuk bisa dipakai sebagai energi," tutur Rudy.

Terkait tanda atau gejala diabetes, Rudy mengatakan, kondisi prediabetes dan diabetes awal biasanya tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, prediabetes maupun diabetes awal sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

Di sisi lain, Rudy mengatakan diabetes memiliki gejala klasik yang dikenal sebagai 3P. Kepanjangan dari 3P adalah poliuri, polidipsi, dan polifagi. Poliuri adalah banyak buang air kecil, polidipsi adalah sering merasa haus, sedangkan polifagi adalah sering merasa lapar.

"Tapi kalau sudah ada tiga ini, diabetesnya biasanya sudah agak parah," jelas Rudy.

Untuk bisa mendeteksi prediabetes dan diabetes sejak dini, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan skrining cek gula darah. Dengan skrining ini, kondisi diabetes bisa terdeteksi sebelum memunculkan gejala.

Tatalaksana untuk diabetes pun cenderung lebih mudah bila dilakukan semakin awal. Rudy mengatakan, skrining cek gula darah sebaiknya dilakukan minimal satu tahun sekali, khususnya untuk orang-orang berusia di atas 40 tahun dan memiliki faktor risiko diabetes.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA