Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Bermain dengan Bayi Membuat Otak Tersinkronisasi Bersama

Selasa 14 Jan 2020 15:28 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Gita Amanda

Bermain dengan bayi membuat otak tersinkronisasi bersama. Foto bayi sedang tidur bukan berarti aktivitas otaknya untuk belajar terhenti, (ilustrasi).

Bermain dengan bayi membuat otak tersinkronisasi bersama. Foto bayi sedang tidur bukan berarti aktivitas otaknya untuk belajar terhenti, (ilustrasi).

Foto: corbis
Sinkronisasi ini terbentuk karena adanya rangsangan berupa stimulus dari luar otak.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Para peneliti di Princeton Baby Lab di Amerika Serikat (AS) mengamati aktivitas otak 18 anak yang masih berusia 10 bulan sampai 15 bulan. Mereka melakukan pengamatan ketika anak-anak tersebut bermain dengan orang dewasa.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa otak orang dewasa bersinkronisasi ketika mereka menonton film dan mendengarkan cerita, tetapi sedikit yang mengetahui tentang bagaimana sinkronisasi saraf ini mulai berkembang pada tahun pertama kehidupan," ujar psikolog kognitif Elise Piazza dilansir dari Sciencealert, Senin (13/1) lalu.

Sinkronisasi ini terbentuk karena adanya rangsangan berupa stimulus dari luar otak. Yakni tindakan yang dilakukan seseorang sehingga otak tersebut memproses informasi dan meresponnya. Begitu juga sebaliknya, tindakan seseorang dapat memengaruhi otak orang lain, memberikan umpan balik yang cepat dan tersinkronisasi.

Dalam penelitian terhadap 18 anak tersebut, tidak semuanya dapat diajak kooperatif. Terkadang mereka lebih menikmati pembacaan cerita pengantar tidur sambil duduk di pangkuan orang tua mereka, terkadang juga anak-anak itu memilih bermain dengan satu set mainan.

Untuk melihat titik perbandingan aktivitas sinkronisasi otak dilakukan sejumlah percobaan yang melibatkan orang dewasa yang tengah bermain  dengan anak dan disaat bersamaan mereka juga terlibat dengan orang dewasa lain.

Temuan mengungkapkan bahwa sinkronisasi terjadi pada bayi seperti antara orang dewasa. Otak orang dewasa yang menjadi eksperimen dan anak akan bergema satu sama lain hanya ketika keduanya berinteraksi secara langsung.

“Saat berkomunikasi, (otak) orang dewasa dan anak tampaknya membentuk lingkaran umpan balik. Artinya, otak orang dewasa memprediksi kapan bayi akan tersenyum, otak bayi diantisipasi ketika orang dewasa akan menggunakan lebih banyak 'bicara bayi,' dan kedua otak melacak kontak mata bersama dan perhatian bersama pada mainan. Jadi, ketika bayi dan orang dewasa bermain bersama, otak mereka saling mempengaruhi secara dinamis,” ujar Piazza.

Ini terlihat pada korteks pre-frontal. Yakni bagian otak yang berhubungan dengan perencanaan dan pembelajaran. Bagian ini sebelumnya dianggap merupakan daerah yang belum berkembang sepenuhnya pada bayi. Temuan itu agak mengejutkan.

"Kami juga terkejut menemukan bahwa otak bayi sering 'memimpin' otak orang dewasa beberapa detik, ini menunjukkan bahwa bayi tidak hanya secara pasif menerima input tetapi dapat membimbing orang dewasa ke arah hal berikutnya yang akan mereka fokuskan: (seperti) mainan untuk diambil, kata-kata yang harus diucapkan,” kata psikolog Casey Lew-Williams.

Mungkin sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam otak kecil yang sedang berkembang itu hanya dengan memperhatikan wajah mereka. Tetapi akan terlihat jelas bahwa ternyata mereka mengambil segala sesuatu sejak dini, bayi membimbing orang-orang di sekitar mereka untuk menunjukkan hubungan kepadanya, menyebabkan otak kita masuk ke dalam dunia mereka.

"Penelitian kami, menggunakan teknik pencitraan ramah bayi, memberikan demonstrasi pertama dari peran dinamis yang dimainkan oleh otak yang berkembang dan matang selama interaksi sosial langsung," tulis para peneliti dalam laporan mereka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA