Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Langkah Awal Cegah DBD: Kendalikan Indukan Nyamuk

Senin 13 Jan 2020 22:25 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Nyamuk demam berdarah membutuhkan air tergenang yang tak mengalir untuk menetaskan telur.

Nyamuk demam berdarah membutuhkan air tergenang yang tak mengalir untuk menetaskan telur.

Foto: AP
Induk nyamuk DBD membutuhkan air tergenang yang tak mengalir untuk menetaskan telur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemkes) Republik Indonesia (RI) mengingatkan perlunya mengendalikan indukan nyamuk. Upaya itu dibutuhkan untuk mencegah kemungkinan terjangkitnya demam berdarah (DBD) menyusul datangnya musim pancaroba.

"Bagaimana supaya tidak digigit nyamuk? Pertama, kendalikan perindukan nyamuk," kata Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemkes Achmad Yurianto melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin.

Achmad mengatakan, sebelum mencari tahu tentang cara mencegahnya, masyarakat juga diimbau untuk terlebih dahulu memahami sebab penyebaran penyakit tersebut. Ia menyebutkan bahwa penyakit demam berdarah menjangkiti seseorang karena disebarkan dari orang lain yang sudah terkena demam berdarah melalui perantaraan nyamuk.

"Jadi ada orang yang sakit (demam berdarah sebelumnya), karena itu akan menjadi sumber penyakitnya," katanya.

Untuk mencegah penyebarannya, masyarakat perlu mengendalikan perindukan nyamuk yang dapat menyebarkan virus penyebab demam berdarah melalui gigitan, yaitu nyamuk Aedes Aegepti. Achmad menjelaskan, indukan nyamuk pasti akan membutuhkan air untuk bertelur.

Baca Juga

"Kemudian dia akan berubah menjadi jentik, kemudian menjadi larva nyamuk," katanya.

Oleh karena itu, menurut Achmad, masyarakat perlu melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN), yaitu dengan menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain. Selanjutnya, masyarakat juga perlu menutup rapat tempat-tempat penampungan air.

Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan. Hilangkan ruang atau peluang untuk ada pertumbuhan nyamuk.

Lebih lanjut, Achmad  mengatakan bahwa untuk tumbuh, nyamuk membutuhkan ruang yang tenang, air yang bersih dan tidak mengalir. Nyamuk juga hanya membutuhkan air sedikitnya satu cc (sentimeter kubic) dan waktu dua pekan untuk dapat bertelur. Oleh karena itu, Kemkes meminta masyarakat untuk benar-benar membersihkan secara berkala setiap lokasi yang berpotensi menjadi tempat genangan sehingga tidak memungkinkan bagi nyamuk untuk bertelur hingga menetaskan telurnya.

Upaya berikutnya yang dapat dilakukan adalah dengan berusaha mencegah masuknya nyamuk dewasa ke dalam rumah, misalnya, dengan memasang kelambu di kamar tidur. Masyarakat juga perlu mengetahui kelompok yang rentan atau mudah sakit jika terkena gigitan nyamuk, salah satunya anak-anak.

Oleh karena itu, Achmad mengingatkan pembersihan tidak hanya perlu dilakukan di lingkungan rumah, tetapi juga lingkungan lain tempat anak-anak beraktivitas pada jam-jam tertentu, misalnya lingkungan sekolah. Ia menjelaskan, nyamuk demam berdarah biasanya aktif sekali menggigit antara jam 08.00 WIB hingga 10.00 WIB.

"Nah, saat-saat seperti itu, anak-anak biasanya enggak di rumah. Biasanya (mereka) di sekolah," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA