Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Komunikasi dengan Anak Penting Cegah Kekerasan Seksual

Jumat 10 Jan 2020 16:33 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Indira Rezkisari

Rita Pranawati, anggota KPAI, mengajak orang tua intens berkomunikasi dengan anak sebagai bentuk antisipasi kekerasan seksual anak.

Rita Pranawati, anggota KPAI, mengajak orang tua intens berkomunikasi dengan anak sebagai bentuk antisipasi kekerasan seksual anak.

Foto: Yogi Ardhi Republika
Komunikasi dengan anak bukan sekadar bertanya nilai atau makan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati, menilai pentingnya kelancaran komunikasi antara orang tua dan anak dalam hal pencegahan kekerasan seksual kepada anak. Komunikasi, kata Rita, agar orang tua dapat terus memantau perkembangan kehidupan sosial anaknya.

"Kadang-kadang komunikasi itu anak kan sering sekali orang tua hanya ingin memastikan soal nilai, makan apa belum, tapi bagian bagian yang di luar akademis dan kehidupan sosial anak itu tidak menjadi konsern orang tua. Kadang yang penting nilainya bagus itu selesai," ujar Rita saat dihubungi wartawan, Jumat (10/1).

Padahal kata Rita, komunikasi orang tua-anak penting untuk memberikan pemahaman anak pentingnya pendidikan seks sejak dini maupun kesehatan reproduksi. Menurutnya, anak sejak dini harus diberi pembekalan bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh dan tidak.

Ia juga menekankan pembekalan tersebut harus diberikan ke semua anak baik laki-laki maupun perempuan. Menurut Rita, selama ini pendidikan seks dini lebih difokuskan kepada perempuan dibanding laki-laki.

"Pengalaman saya, anak laki laki pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi itu kurang, saya sering ke SD-SD itu kalau anak perempuan itu biasanya lebih banyak, sementara anak laki-laki itu nggak begitu. Jadi saya kira perlu diberikan semuanya sejak awal," ujar Rita.

Selain itu, komunikasi orang tua juga diperlukan saat anak mulai beranjak dewasa dan memasuki fase tertarik dengan lawan jenis. Hal ini agar anak diarahkan ke arah yang lebih baik.

"Karena kan fase tertarik dengan lawan jenis kan itu lho, tinggal diarahkan diajak ngobrol sampai mana yang boleh dan tidak. Tetapi bukan interaktif, itu fase kritikalnya," ujarnya.

Karena itu, ia meyakini jika pembekalan terhadap anak sudah dilakukan sejak awal, anak lebih kokoh dalam menjalani kehidupan sosial di masa mendatang. Sehingga bisa mencegah anak melakukan penyimpangan maupun kekerasan seksual

"Menurut saya nilai-nilai yang sudah dipondasikan menurut saya akan kuat sehingga ketika sudah kuliah tahu mana yang benar dan mana yang tidak, juga tidak akan mudah terjerat, terjerat ke hal hal yang menjerumuskan," ujarnya.

Tak hanya itu, Rita juga menyebut pola komunikasi penting agar anak terbuka kepada orang tuanya. Menurutnya, kasus-kasus kekerasan seksual kepada anak lama terungkap. "Kemudian yang membuat kasus kekerasan seksual di Indonesia itu lama terungkapnya, karena anak tidak biasa bercerita," ujarnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA