Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Protein Hewani Jadi Kunci Pencegahan Stunting

Kamis 26 Dec 2019 16:09 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari

Tambahkan asupan protein hewani ke makanan bayi untuk mencegah stunting.

Tambahkan asupan protein hewani ke makanan bayi untuk mencegah stunting.

Foto: PxHere
Asupan protein hewani baik cegah stunting karena mengandung asam amino lengkap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam edukasi pencegahan stunting, seringkali orang tua disarankan untuk memberikan protein nabati dalam menu makanan pendamping ASI (MPASI) atau makanan anak. Salah satu yang kerap disarankan adalah kacang hijau. Padahal, pemberian protein nabati tidak cukup untuk mencegah stunting.

"Kuncinya harus dikasih protein hewani," ungkap Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Damayanti Rusli Sjarif SpA(K) usai seminar kesehatan yang diselenggarakan dalam rangka memeringati 100 Tahun RSCM di Istora Senayan, Jakarta.

Damayanti mengatakan bukan berarti protein nabati tidak boleh diberikan kepada anak. Protein nabati boleh diberikan, akan tetapi dalam pencegahan stunting, Damayanti menyarankan agar protein nabati tidak dihitung sebagai asupan protein.

"Mau dikasih makan tempe ya boleh sekali-sekali, tapi tidak usah dihitung sebagai protein, anggap saja itu sebagai sayur," lanjut Damayanti.

Asupan protein nabati tidak sebaik protein hewani dalam pencegahan stunting karena tidak memiliki kandungan asam amino yang lengkap. Asupan asam amino yang lengkap dibutuhkan oleh anak agar bisa bertumbuh tinggi mencapai tinggi optimalnya.

Pemberian protein hewani tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal. Damayanti mengungkapkan setidaknya ada empat sumber protein hewani yang baik dikonsumsi anak untuk mencegah stunting.

Keempat sumber protein hewani tersebut adalah susu, telur, ikan dan ayam. Damayanti mengatakan telur dan ikan lokal bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah sehingga dapat dijangkau oleh semua kalangan.

"Daging tidak bisa, karena asam aminonya lengkap tapi tidak cukup, dia ada dua (asam amino) yang tidak cukup," jawab Damayanti.

Damayanti ingin agar edukasi mengenai pentingnya asupan protein hewani dalam mencegah stunting ini dipahami oleh masyarakat luas. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap asupan yang tepat, angka stunting diharapkan terus menurun di Indonesia.

Angka stunting pada balita di Indonesia menunjukkan adanya penurunan dari 37,8 persen pada 2013 menjadi 30,8 persen pada 2018 menurut Riset Kesehatan Data. Meski mengalami penurunan, angka stunting masih perlu diturunkan untuk mencapai target global yang dicanangkan oleh WHO yaitu penurunan 40 persen angka stunting pada balita pada 2025.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA