Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Dampak Negatif Menunda Pengangkatan Sel Kanker Payudara

Senin 16 Dec 2019 17:56 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Reiny Dwinanda

Hasil mammogram payudara, tes untuk mendeteksi kanker. Riset menunjukkan penundaan operasi pengangkatan sel kanker pada saluran air susu ibu dapat berdampak negatif pada penderitanya.

Hasil mammogram payudara, tes untuk mendeteksi kanker. Riset menunjukkan penundaan operasi pengangkatan sel kanker pada saluran air susu ibu dapat berdampak negatif pada penderitanya.

Foto: AP
Penundaan pengangkatan sel abnormal di saluran susu di payudara berdampak negatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah riset menunjukan bahwa menunda pembedahan kanker payudara non-invasif dapat memiliki konsekuensi yang tak bisa diremehkan. Riset mendapati bahwa penundaan pengangkatan sel-sel abnormal yang muncul di saluran air susu ibu (ductal carcinoma in situ, DCIS) akan mengarah pada risiko yang lebih tinggi daripada karsinoma saluran susu invasif.

Baca Juga

"Ada sedikit perbedaan, di bawah satu persen, dalam kelangsungan hidup untuk setiap bulan keterlambatan pengangkatan sel abnormal pada saluran air susu ibu," kata profesor onkologi bedah di Fox Chase Cancer Center, Philadelphia, Richard Bleicher, seperti diwartakan Heatlh24, Senin (16/12).

Di lain sisi, Bleicher mengungkapkan bahwa untuk setiap bulan keterlambatan operasi pengangkatan sel abnormal pada saluran susu, ada peningkatan sekitar satu persen dalam penemuan kanker invasif. Dia mengatakan, hal itu juga berlaku meskipun penundaan dilakukan terhadap kanker payudara yang bukan bersifat darurat.

"Penundaan memang memiliki efek dan penundaan yang lama harus dihindari," katanya.

DCIS terjadi ketika sel-sel abnormal terbentuk di saluran air susu pada payudara ibu. Itu merupakan tahap awal kanker payudara. Sel abnormal ituakan menjadi karsinoma duktal invasif ketika sel-sel ganas menyebar di luar saluran susu.

Perawatan standar untuk DCIS adalah operasi dan radioterapi bersama dengan terapi endokrin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa beberapa DCIS mungkin tidak pernah berkembang menjadi penyakit invasif.

Saat ini, uji klinis sedang dilakukan untuk menentukan apakah DCIS dapat diamati, daripada diangkat melalui operasi. Bleicher mengatakan, studi menunjukkan bahwa keterlambatan dalam manajemen operasi DCIS berkaitan erat dengan munculnya invasi dan dampak yang lebih buruk dalam jangka pendek.

"Karena pengamatan mewakili penundaan yang tak terbatas, itu menunjukkan bahwa pengamatan tidak semestinya dilakukan di luar uji klinis pada pasien yang dapat menoleransi pembedahan," katanya.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 140.600 perempuan di Amerika Serikat (AS). Sebanyak 123.947 dari responden memiliki DCIS dan 16.668 dengan karsinoma duktal invasif. Mereka didiagnosis antara 2004 hingga 2014.

Peneliti membandingkan kelangsungan hidup dengan membandingkan lima interval waktu penundaan untuk menjalani operasi, yakni kurang dari 30 hari, 31-60 hari, 61-90 hari, 91-120 hari, atau 121-365 hari. Kelangsungan hidup secara keseluruhan adalah 95,8 persen dengan waktu rata-rata dari diagnosis hingga pembedahan 38 hari. Namun, setiap peningkatan dalam interval diagnosis keoperasi dikaitkan dengan peningkatan 7,4 persen risiko kematian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA