Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Hati Berdebar Saat Senja di Kaimana

Jumat 13 Des 2019 21:20 WIB

Rep: Priyantono Oemar/ Red: Hiru Muhammad

Kaimana

Kaimana

Foto: Republika/Priyantono Oemar
Sekarang taman itu menjadi tempat bersantai saat petang.

REPUBLIKA.CO.ID, Di ruang kerja Kepala Kampung Werba Ridolof Tuturop hanya terpasang gambar Garuda Pancasila. ‘’Apa foto Presiden dan Wakil Presiden belum terima, kok belum dipasang?’’ tanya saya saat bertamu ke ruang kerjanya, Jumat (6/12) pagi.

Ia menyebut foto Presiden dan Wakil Presiden dipasang di ruang pertemuan. ‘’Ini Garuda Pancasila dari kepala kampung pertama. Saya simpan terus,’’ kata Ridolof mengenai alasannya memasang khusus gambar Garuda Pancasila di ruang kerjanya.

Werba berada di Distrik Fakfak Barat, Kabupaten Fakfak. Di tahun 1950-an, Fakfak menjadi pusat perjuangan masyarakat Papua prointegrasi melakukan perlawanan terhadap Belanda. Abu Talib bin Paris dari Kokas melakukan perlawanan di Fakfak pada 1953. Tujuh tahun kemudian, perlawanan juga pecah di Kokas. Pajuang yang ditangkap Belanda kemudian dibuang ke Digul.

Saat mengunjungi Kokas Sabtu (7/12) pagi, ada monumen meriam di depan pintu pelabuhan Kokas. Ada juga monumen meriam di Kampung Sekar. Inilah saksi bisu Perang Pasifik. Di atas bukit, dari pelabuhan terlihat tulisan besar berwarna merah dan putih:  Selamat Datang di Kota Basis Pertahanan Perang Dunia II. 

Gua jepang ada di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Gua-gua itu merupakan tempat pertahanan tentara Jepang saat melawan tentara Sekutu di Perang Pasifik. 

Jenderal Douglas Mc Arthur yang memimpin pasukan Amerika Serikat memenangkan peperangan itu. Di Jayapura, namanya diabadikan menjadi nama bukit: Bukit Bekatul. ‘’Asal-usulnya sih dari nama Jenderal Mekatur, itu lho jenderal Perang Pasifik,’’ jelas pengemudi yang mengantar saya saat ke Bukit Bekatul pada 2014.

Sejak 1949 sampai 1961, menurut catatan peneliti LIPI Cahyo Pamungkas, para pemuda Papua yang prointegrasi secara bergelombang melarikan diri ke wilayah Indonesia. ‘’Beberapa pejuang pro-Indonesia dan eks Digulis kemudian membentuk Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) yang menentang penjajahan Belanda melalui berbagai demonstrasi,’’ tulis Cahyo di jurnal Paramita, Januari 2015.

Fakfak --termasuk Kaimana di dalamnya-- dan Serui, menjadi pusat identitas politik keindonesiaan di Papua saat itu. Kaimana yang semula merupakan distrik di Kabupaten Fakfak, pada 2002 ditetapkan sebagai kabupaten.

Fakfak dan Kaimana, catat Cahyo di jurnal Paramita itu, "merupakan basis paling kuat dari nasionalisme Indonesia di Tanah Papua pada masa awal integrasi dengan Indonesia maupun pada masa kebangkitan rakyat Papua tahun 1998.’’

Di Kaimana, pada 1962, menjadi tempat pertolongan bagi anak buah Yos Sudarso yang kapalnya ditenggelamkan Belanda. "Itulah yang menginspirasi diciptakannya lagu ‘Senja di Kaimana'," ujar FI Lawalata, warga Kaimana.

Menurut Lawalata, rumah tempat pertolongan itu dijadikan puskesmas. Saat ini di peta Google ada dua lokasi puskesmas di Kaimana. Satu lokasi sudah ditutup, letaknya sekitar 200 meter di sebelah timur Masjid Kaki Air Besar. Masjid ini berada di sebelah utara Taman Jokowi-Iriana. Puskesmas yang satu lagi, yang masih beroperasi, sekitar 1,4 km ke arah selatan dari Masjid Kaki Air Besar.

Taman Jokowi Iriana terletak di sebelah utara Pelabuhan Kaimana, perluasan dari Taman Kota. ‘’Nama Taman Jokowi Iriana baru dipasang di taman kolam ikan itu tiga hari sebelum Jokowi datang di Kaimana,’’ ujar Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pariwisata Kabupaten Kaimana, Kundrat Waryensi.

Sekarang taman itu menjadi tempat bersantai saat petang untuk menyaksikan pemandangan tena sirjenari.  "Jika dilihat dari atas, taman ini berbentuk ikan di kolam,’’ ujar Dwi, pemilik travel perjalanan di Kaimana yang mengantar ke Taman Jokowi Iriana.

Menurut Kundrat, tena sirjenari adalah bahasa Mairasi untuk matahari tenggelam. Suku Mairasi merupakan salah satu suku yang ada di Kaimana. 

Saat Jokowi dan Iriana mengunjungi Kaimana pada 27 Oktober lalu, Dwi mendapat pesanan 37 kendaraan untuk keperluan transpotasi rombongan Paspampres dan lainnya. ‘’Pak Jokowi dan Ibu Iriana duduk di sisi pantai, dengan hidangan kelapa muda di meja,’’ ujar Dwi.

Kunjungan Jokowi Iriana ini kemudian melejitkan kembali lagu ‘Senja di Kaimana’, lagu tahun 1960-an dan menjadi penyemangat para pejuang Trikora. Namun makna senja di lagu itu kurang tepat. Menurut KBBI, senja adalah waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam. Sedangkan suasana saat matahari akan terbenam masih dalam kategori petang. 

Tentang Trikora, FI Lawalata mendapatkan cerita dari ayahnya, tentara yang diterjunkan pada masa pembebasan Irian Barat itu. Ayahnya semula ditugaskan ke Biak, kemudian ditugaskan di Kaimana. Di Kaimana, FI Lawalata lahir pada 1962.

Di bagian lirik Senja di Kaimana, Surni Warkiman menulis: Kau usapkan tangan halus mulus Di luka nan parah penuh debu. Inilah gambaran perawatan kepada para pejuang yang mengalami luka-luka. Rumah yang dulu dijadikan sebagai tempat perawatan, kata Lawalata, masih ada hingga sekarang di wilayah pantai Kaimana.

Dari pantai Kaimana, memandang ke arah barat merupakan pemandangan Laut Arafuru. Ketika matahari hendak tenggelam, memancarkan pantulan cahaya warna kuning keemasan di permukaan Laut Arafuru. Seiring surya meredupkan sinar Dikau datang ke hati berdebar.

Hati saya benar-benar berdebar saat harus pulang dari Kampung Kambala di Distrik Buruway saat hari sudah senja. Seharian di Kambala melihat hutan bakau dan kehidupan petani pala. Pala menjadi andalan Kaimana dan Fakfak, kabupaten induk saat Kaimana masih menjadi distrik dari Fakfak.

Senja itu air sudah pasang. Pulang ke kapal dengan perahu melawan ombak. Rembulan menyinari perahu, tetapi ada juga awan di beberapa tempat di langit. Ini yang membuat hati berdebar-debar selama 40 menit perjalanan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA