Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Menonton TV Erat Kaitannya dengan Risiko Obesitas Anak

Jumat 13 Dec 2019 06:40 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda

Makanan tinggi lemak banyak dipilih anak-anak sebagai teman menonton TV. Hal tersebut memicu tingginya risiko obesitas anak.

Makanan tinggi lemak banyak dipilih anak-anak sebagai teman menonton TV. Hal tersebut memicu tingginya risiko obesitas anak.

Foto: Agung Supriyanto/Republika
Studi di Spanyol perlihatkan kaitan antara menonton TV dan risiko obesitas anak.

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA — Penelitian baru di Spanyol menemukan menonton televisi tampaknya menjadi faktor gaya hidup yang paling kuat terkait dengan risiko obesitas anak. Penelitian ini dipimpin oleh Institut Kesehatan Global Barcelona (ISGlobal).

Studi tersebut melihat data yang dikumpulkan dari 1.480 anak-anak Spanyol. Peneliti menilai, lima kebiasaaan gaya hidup anak-anak, termasuk aktivitas fisik, waktu tidur, waktu menonton televisi, konsumsi makanan nabati, dan konsumsi makanan ultra olahan.

Mereka juga meminta orang tua untuk mengisi kuesioner tentang kebiasaan anak-anak mereka pada usia empat tahun. Para peneliti mengukur indeks massa tubuh si kecil (BMI), lingkar pinggang, dan tekanan darah pada pada usia empat dan tujuh tahun.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatric Obesity ini menunjukkan, dari lima perilaku yang dianalisis dalam penelitian ini, menonton televisi memiliki hubungan terkuat dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Anak-anak yang kurang aktif dan mengahabiskan lebih banyak waktu luang di depan televisi di usia empat lebih cenderung kelebihan berat badan, obesitas, atau memiliki sindrom metabolik pada usia tujuh tahun.

Tetapi, ketika para peneliti melihat waktu yang dihabiskan melakukan aktivitas lain, seperti membaca, menggambar, dan menyusun puzzle, aktivitas ini tampaknya tidak terkait dengan kelebihan berat badan dan obesitas.

“Sebagian besar penelitian hingga saat ini berfokus pada dampak perilaku gaya hidup individu daripada efek kumulatif. Namun diketahui perilaku tidak sehat cenderung tumpang tindih dan saling terkait,” kata co-leader penelitian Martine Vrijheid, seperti yang dilansir Malay Mail, Jumat (13/12).

Peneliti Silvia Fernandez mengatakan, menonton televisi tidak melibatkan aktivitas fisik dan mengganggu waktu tidur. Tim juga menambahkan tidur yang cukup pada anak usia dini sangat penting untuk mempertahankan berat badan sehat di kemudian hari.

Penelitian sebelumnya menunjukkan 45 persen anak-anak tidak tidur dengan jumlah jam yang disarankan per malam. "Ini mengkhawatirkan karena waktu tidur yang lebih singkat cenderung dikaitkan dengan obesitas," ujar Fernandez.

Hasil penelitian juga menunjukkan asupan tinggi makanan ultra olahan pada usia empat, seperti kue-kue, minuman manis, dan produk olahan biji-bijian yang tinggi gula, garam dan lemak jenuh, serta rendah nilai gizi, dikaitkan dengan BMI lebih tinggi pada usia tujuh. Sekali lagi, para peneliti mengatakan menonton televisi juga dapat berdampak pada perlaku gaya hidup ini.

“Ketika anak-anak menonton televisi, mereka melihat sejumlah besar iklan untuk makanan yang tidak sehat. Ini dapat mendorong mereka mengonsumsi produk-produk ini,” kata salah satu pemimpin penelitian dari ISGlobal, Dora Romaguera.

Para peneliti menyimpulkan pengaturan kebiasaan gaya hidup sehat selama masa kanak-kanak, termasuk waktu televisi yang terbatas, aktivitas ekstrakulikuler fisik, cukup tidur, makan banyak sayuran dan menghindari makanan ultra olahan, penting untuk kesehatan yang baik selama masa dewasa.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA