Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Studi: Tidur 9 Jam di Malam Hari Bisa Picu Strok

Jumat 13 Dec 2019 02:02 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Gita Amanda

Tidur selama sembilan jam meningkatkan risiko strok 23 persen. Stroke (ilustrasi)

Tidur selama sembilan jam meningkatkan risiko strok 23 persen. Stroke (ilustrasi)

Foto: AP
Mereka yang tidur selama 9 jam lebih memiliki risiko 23 persen terkena strok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seseorang yang tidur lebih dari sembilan jam setiap malam atau tidur lama di siang hari kemungkinan berisiko tinggi terkena strok dibandingkan dengan mereka yang kurang tidur. Hal itu berdasar pada sebuah studi baru dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan China.

Studi yang diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Neurology ini meneliti kebiasaan tidur 31.750 orang dewasa yang sehat, menggunakan kombinasi pemeriksaan fisik dan data yang dilaporkan sendiri. Para peserta yang tidak memiliki riwayat strok atau masalah kesehatan utama lainnya diteliti selama enam tahun rata-rata. Para peserta juga ditanya tentang durasi tidur setiap malam serta seberapa sering tidur di siang hari dan berapa lama durasinya. Namun, faktor gaya hidup lain seperti kebugaran dan nutrisi tidak dipertimbangkan dalam penelitiannya.

Setelah enam tahun, ditemukan ada 1.438 kasus strok dan 119 kemungkinan terkena strok. Para peneliti juga menemukan, peserta yang tidur selama 9 jam atau lebih di malam hari memiliki risiko 23 persen lebih tinggi terkena strok, dibandingkan peserta yang tidur kurang dari 8 jam per malam.

Demikian pula, peserta yang tidur siang selama lebih dari 90 menit disebut memiliki risiko strok 25 persen lebih tinggi daripada peserta yang tidur siang kurang setengah jam.

Tim juga menunjukkan bahwa peserta dengan kualitas tidur yang buruk 29 persen lebih mungkin mengalami strok mereka yang merasa tidur nyenyak. Sementara itu, mereka yang tidur lama dan juga mengalami kualitas tidur yang buruk adalah 82 persen lebih mungkin untuk mengalami strok.

“Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami bagaimana tidur siang yang panjang dan tidur lebih lama di malam hari mungkin terkait dengan peningkatan risiko strok. Tetapi penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tidur yang lama memiliki perubahan yang tidak menguntungkan pada kadar kolesterol dan peningkatan lingkar pinggang, yang keduanya merupakan faktor risiko strok,” Penulis studi Xiaomin Zhang dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan Cina, di lansir The Independent, Kamis (12/12).

Selain itu, tidur panjang mungkin menunjukkan gaya hidup tidak aktif secara keseluruhan. Ini juga terkait dengan peningkatan risiko strok.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA