Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Kesalahan Orang Tua dalam Menyemangati Anak

Kamis 12 Dec 2019 08:50 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Kesalahan orang tua dalam menyemangati anak. (Ilustrasi)

Kesalahan orang tua dalam menyemangati anak. (Ilustrasi)

Foto: cloudfront.net
Niatnya menyemangati, orang tua justru kerap membuat mental anak makin terpuruk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepercayaan diri anak terkadang menurun ketika terjadi hal buruk yang tengah menimpanya. Sebagai orang terdekat di lingkungan keluarga, ayah dan ibu sudah seharusnya berperan dalam menyemangati anak yang tengah terpuruk.

Psikolog klinis Kasandra Putranto menyayangkan masih banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam menyemangati anaknya. Pemilihan kata yang tak tepat membuat anak justru tak ingin mendengar nasihat orang tua ketika dia mengalami kegagalan.

“Cara orang tua menyemangati anak itu sering kali tak tepat. Terlebih kata-katanya,” ungkap Kasandra kepada Republika ditemui di Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Alih-alih memompa semangat anak, orang tua malah membanding-bandingkan buah hatinya dengan anak lain yang memiliki prestasi lebih baik. Objek pembandingnya bisa jadi kakak atau adik, sepupu, atau bahkan anak tetangga.

“Sering kan, kita dengar, "Kok kamu tidak bisa seperti anak tetangga itu sih? Masak begini saja tidak bisa?" Padahal ibunya sendiri kalau melakukan hal itu juga belum tentu bisa,” kata Kasandra.

Agar niat menyemangati tak jadi buyar, Kasandra menyarankan agar ayah dan ibu memahami psikologis anak. Salah satunya adalah dengan tidak membandingkan kemampuan anak dengan siapapun.

Baca Juga

"Sebab, anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan masing-masing memiliki keunikan," ujar Kasandra.

Selain itu, Kasandra juga mengingatkan agar ayah dan bunda tidak menyamakan proses yang tengah dilalui anak dengan proses yang telah dilalui orang tua dahulu. Ia mengatakan bahwa era sudah berubah sehingga kondisinya tak bisa disamakan.
 
“Ada juga yang mengatakan sudah menyemangati anaknya, dengan mengatakan, ‘dulu ibu bisa, padahal pakai dipukul orang tua ibu,’ dan semacamnya. Itu tidak bisa diterapkan, karena eranya saat ini sudah berbeda dengan era pada saat orang tua mengalaminya dulu,” jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA