Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Mengapa Bayi di Bawah 6 Bulan Hanya Boleh Dapat ASI?

Rabu 11 Dec 2019 19:22 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Bayi di bawah enam bulan hanya boleh mendapatkan ASI.

Bayi di bawah enam bulan hanya boleh mendapatkan ASI.

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Sebelum genap berusia enam bulan, bayi hanya boleh minum ASI.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bayi yang berusia di bawah enam bulan tidak pernah dianjurkan untuk mengkonsumsi jenis makanan apapun. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hanya pemberian air susu ibu yang direkomendasikan, mengingat kebutuhan nutrisi yang sudah terpenuhi dengan ini.

“Bayi di bawah usia enam bulan belum bisa menerima makanan padat dan jenis lainnya karena ususnya belum sempurna, demikian dengan kesiapan organ-organ lainnya,” ujar dokter spesialis anak Margaretha Komalasari kepada Republika.co.id, Selasa (10/12).

Margareta menjelaskan, oral motorik dan rongga mulut anak di bawah usia enam bulan belum siap untuk menelan jenis makanan apapun. Jika diberikan, sekalipun berbentuk makanan semi padat, ada resiko tersedak yang bisa sangat membahayakan dampaknya.

Memberikan asupan selain ASI kepada anak di bawah usia enam bulan membuat sistem pencernaan tubuh terpaksa bekerja ekstra keras demi mengolah dan memecah makanan yang masuk. Karena dipaksa bekerja keras, makanan pun tak dapat dicerna dengan baik dan pada akhirnya bisa menimbulkan reaksi gangguan pencernaan, seperti konstipasi atau timbulnya gas.

Margareta menjelaskan, ssistem pencernaan relatif sempurna dan siap menerima makanan padat pada usia 6 bulan ke atas. Dengan menunda pemberian asupan makanan, hingga usia itu, sistem pencernaan dapat berkembang dengan sempurna terlebih dahulu.

Saat telah berusia enam bulan, pemberian makanan padat juga diberikan secara bertahap. Pertama-tama, makanan dianjurkan untuk harus melalui proses saring terlebih dahulu agar teksturnya halus.

Perlahan-lahan, tekstur makanan padat akan meningkat. Di usia sembilan bulan, anak disarankan untuk mendapatkan makanan seperti nasi tim tanpa disaring. Hingga di usia 12 bulan atau menginjak satu tahun, mereka dapat diperkenalkan dengan makanan yang sama dikonsumsi oleh orang dewasa.

“Jadi bertahap tekstur makanan anak dinaikkan, dibagi dari usia 6 hingga 9 bulan masih dengan disaring, kemudian selanjutnya tidak, cukup seperti nasi tim untuk mempersiapkan mereka bisa konsumsi makanan rumahan saat usia 12 bulan,” jelas Margareta.

Lebih lanjut, Margareta mengatakan, makanan pendamping ASI (MPASI) yang direkomendasikan untuk anak-anak adalah makanan dengan menu empat bintang. Menu makanan ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan gizi bayi, terutama zat besi, agar anak terhindar dari malnutrisi, berat badan rendah atau stunting di kemudian hari.

Sesuai namanya, menu MPASI ini mengandung empat jenis nutrisi penting yang dibutuhkan, yakni karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan sayuran. Meski demikian, Margareta mengingatkan agar porsi sayuran hanyalah sedikit, sekadar untuk memperkenalkan rasa.

“Ini penting ya untuk diketahui kalau sayuran, termasuk buah juga itu tidak perlu banyak jumlahnya untuk anak, hanya sebagai pengenal rasa, karena nanti mereka mudah kenyang, padahal nutrisinya belum tercukupi,” kata Margareta.

Margareta mengatakan, selama ini banyak orang tua yang masih salah dengan persepsi buah dan sayuran yang baik untuk tubuh. Meski sehat, pada anak-anak yang masih dalam usia pertumbuhan sangat membutuhkan pertambahan berat badan.

Karbohidrat dan protein hewani menjadi kebutuhan utama anak-anak. Jika buah dan sayuran terlalu banyak dikonsumsi, mereka akan mendapatkan lebih banyak serat, mudah kenyang, dan akhirnya tidak dapat menambahkan berat badan yang optimal dari seharusnya.

“Harus diperbaiki lagi pola pikirnya (para orang tua), jika berat anak masih kurang, sebaiknya tetap banyak konsumsi protein makro nutrien, lemak, zinc, dan zat besi. Kalau banyak buah dan sayur, bisa jadi tidak terpenuhi kebutuhan nutrisinya karena sudah kenyang lebih dulu,” kata Margareta.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA