Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Psikiater: Penanganan Gangguan Tidur Butuh Waktu Cukup Lama

Rabu 11 Dec 2019 13:50 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Anak dengan gangguan tidur/ilustrasi. Penanganan gangguan tidur membutuhkan waktu yang cukup lama.

Anak dengan gangguan tidur/ilustrasi. Penanganan gangguan tidur membutuhkan waktu yang cukup lama.

Foto: specialedpost.com
Durasi panjang penanganan gangguan tidur jadi kendala kesembuhan pasien.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah di Denpasar menyediakan Klinik Gangguan Tidur. Di sana, masyarakat bisa berkonsultasi mengenai gangguan tidur hingga menjalani terapi untuk mengatasi gangguan tidur yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

"Jadi sering disebut Poli Tidur dan pasiennya di sana dievaluasi, mulai dari wawancara soal sakitnya apa, pernah minum obat-obatan (atau) tidak, keluhannya sejauh ini seperti apa, wawancara lengkap," kata psikiater RSUP Sanglah dr Ida Ayu Kusuma Wardani, SpKJ, di Denpasar, Rabu.

Di Poli Tidur, menurut Ida, ada terapi irama yang diberikan ke pasien. Di sana, pasien akan dimonitor apa yang tidak bisa pasien lakukan saat tidak bisa tidur.

Baca Juga

"Biasanya melakukan hal yang disenangi bisa mempengaruhi melatonin terus naik dan akhirnya bisa tidur," ujarnya.

Ida menjelaskan bahwa siklus tidur secara teori dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi, termasuk bertambahnya usia serta asupan makanan. Kalau siklus tidur terganggu dan gangguan itu tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak pada emosi, konsentrasi, dan kerja organ tubuh.

"Bisa jadi karena pekerjaan juga dan ketika badannya sendiri sakit langsung meminum obat obatan. Itu juga bisa mempengaruhi," katanya.

Klinik Gangguan Tidur RSUP Sanglah,yang dibuka sejak 2017. Menurut Ida, penanganan gangguan tidur membutuhkan waktu cukup lama dan itu menjadi kendala kesembuhan pasien yang tidak sabar.

"Proses ini kan memang lama ya, dan kelemahannya rata-rata pasien yang datang enggak mau sampai akhir, kelamaan katanya, nah itu jadi kendala juga kalau mau membaik. Memang mungkin selama proses ini tidak ada kegiatan yang berat ya, jadi akhirnya pasien jenuh dan lebih baik dengan obat saja, ini susahnya," katanya.

Ida menyarankan perbaikan kualitas tidur bagi mereka yang siklus tidurnya terganggu. Secara teori, tiap orang membutuhkan tujuh sampai delapan jam tidur.

"Tapi kalau ada yang bilang lima sampai enam jam ya tidak apa-apa, yang penting tujuannya adalah begitu bangun tidur badan terasa segar. Kalau bangun badannya segar berarti tidurnya bagus, tapi kalau tambah lemes terus sakit semua, itu berarti tidurnya enggak bagus," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA