Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Solusi Bagi Anak yang Resisten Obat TB

Selasa 10 Dec 2019 16:52 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Dokter yang sedang memeriksa anak di Rumah Sakit (ilustrasi). Anak yang resisten obat TB selama ini dapat dosis dewasa yang disesuaikan.

Dokter yang sedang memeriksa anak di Rumah Sakit (ilustrasi). Anak yang resisten obat TB selama ini dapat dosis dewasa yang disesuaikan.

Foto: Republika/Musiron
Anak yang resisten obat TB selama ini dapat dosis dewasa yang disesuaikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tuberculosis multi drug resistant (TB MDR) atau TB yang resisten dengan obat menjadi salah satu ancaman penyakit yang mesti diwaspadai. Sebagai negara dengan peringkat ketiga teratas di dunia dalam jumlah kasus TB secara umum dan urutan ketujuh untuk kasus TB resisten obat, Indonesia dinilai memiliki prevalensi TB resisten obat yang tinggi.

Mengacu pada WHO Global Report 2018, ada sekitar 23 ribu pasien TB resisten obat dan 4.000 di antaranya yang mendapatkan perawatan dan akses pengobatan yang memadai. Ironisnya, selama ini anak-anak yang mengalami TB resisten obat juga belum mendapat perawatan khusus yang optimal.

Untuk menjawab kebutuhan itu, Stop TB Partnership memperkenalkan obat jenis baru bagi anak dengan TB resisten obat. Obat ini diklaim aman dikonsumsi dan ramah bagi anak,dan tidak akan menimbulkan efek samping apapun terhadap anak.

“Saya merasa kita akhirnya mulai mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk mengakhiri TB. Masih ada jalan panjang, tetapi kita melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap,” ungkap Executive Director of the Stop TB Partnership, Dr Lucita Ditiu usai diskusi terkait Tuberculosis di The Westin Jakarta, Selasa (10/12).

TB Resistant Drug-Resistant Pediatric dibuat untuk memastikan anak-anak yang mengalami TB resisten obat mendapatkan akses perawatan terbaik. Obat ini berbentuk kapsul dan mudah larut dalam air, sehingga lebih mudah diminum oleh anak-anak.

Baca Juga

Obat ini harus dikonsumsi satu tablet perhari selama 12 bulan, tentunya atas instruksi dari dokter. Lucita mengklaim obat ini bisa memberikan perawatan optimal tanpa efek samping yang mengerikan secara permanen di masa yang akan datang. Menurut dia, obat ini sudah diadopsi di 56 negara dan diperkenalkan di Haiti dan Nigeria yang memiliki banyak kasus TB resisten obat.

“Selama ini anak-anak dengan TB resisten selalu diberikan obat orang dewasa yang dosisnya kemudian disesuaikan dan adanya obat ini menggantikan kebiasaan tersebut. Jadi anak-anak memiliki obat khusus yang ramah anak,” kata dia.

Sementara itu, Chief of Pediatrics Gheskio, aliansi Kesehatan Global di Haiti, Dr Vanessa Rouzier mengungkapkan, selama ini pengobatan terhadap anak-anak yang mengalami TB resisten obat sangat tidak memadai. Sebab anak-anak diobati dengan diinjeksi dan diberi obat tablet orang dewasa yang kemudian dosisnya disesuaikan.

Menurut Rouzier, pengobatan menggunakan suntikan dan tablet dewasa pada bayi adalah suatu hal buruk. Ia menyebut, itu setara dengan kemoterapi.

"Kita seharusnya tidak lagi menyiksa bayi dan anak-anak dengan pengobatan seperti ini, kita juga harus melakukan yang lebih baik. Dan obat TB ramah anak yang baru ini bisa menjadi alternatif,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA