Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Tanda Seseorang dalam Kondisi Sangat Stres

Ahad 08 Dec 2019 15:05 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Ada beberapa tanda bahwa stres yang dialami berada di ambang batas dan berbahaya (Ilustrasi)

Ada beberapa tanda bahwa stres yang dialami berada di ambang batas dan berbahaya (Ilustrasi)

Foto: Boldsky
Ada beberapa tanda bahwa stres yang dialami berada di ambang batas dan berbahaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stres menjadi salah satu kondisi yang bisa dialami setia orang kapan saja. Bahkan, seringkal kondisi ini terjadi tanpa disadari.

Dilansir Well and Good, Ahad (8/12), ada beberapa tanda bahwa stres yang Anda alami berada di ambang batas dan berbahaya. Menurut psikolog kinis Thea Gallagher, orang-orang yang tidak menyadari telah mengalami stres seperti halnya memiliki luka bakar yang perlahan-lahan menjadi parah dan berbekas.

“Orang-orang tidak menyadari bahwa mereka stres karena tidak ada yang substantif telah berubah. Ini bisa menjadi luka bakar yang lambat,” ujar Gallagher.

Psikiater bernama Gail Saltz yang juga menulis buku The Power of Different mengatakan saat tingkat stres yang dialami sangat tinggi, maka ini menjadi masalah. Pikiran dan tubuh saling berhubungan, karenanya stres dapat memanifestasikan gejala fisik tertentu di tubuh.

“Gejala-gejala itu dapat menjadi cara tubuh untuk berkomunikasi bahwa segala sesuatunya tidak berjalan bagus,” jelas Saltz.

Karena itu, Anda harus memperhatikan delapan tanda stres yang mungkin tidak disadari seperti berikut.


Sering menggertakan gigi di malam hari
Stres menciptakan energi ekstra di tubuh, khususnya otot-otot. Energi itu harus pergi ke suatu tempat saat Anda sedang tidur, karenanya otot-otot di bagian rahan bisa menjadi tegang.

“Saat seluruh tubuh beristirahat, otot-otot rahang Anda menjadi tegang dan memaksa Anda menggertakkan gigi,” ujar psikolog klinis yang juga menjadi penulis buku Family Fot : Find Your Balance in Life, John Mayer.  Kondisi ini bisa menyebabkan sakit di bagian rahang, kepala, hingga mengikis enamel di gigi Anda.


Fluktuasi berat badan spontan
Krika stres, tubuh biasanya melepaskan hormon kortisol. Kadar kortisol yang lebih tinggi dalam tubuh Anda dapat menyebabkan perubahan dalam selera makan Anda, yang dapat terjadi secara berbeda pada setiap orang.

Beberapa orang menjadi makan lebih banyak ketika stres. Sementara, ada yang akan makan lebih sedikit dibandingkan biasanya.

Baca Juga

 

photo
Stres (Ilustrasi)


Masalah pencernaan
Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan tubuh Anda memproduksi lebih banyak asam lambung. hal ini dapat menyebabkan sakit perut, rasa mulas, diare, hingga sejumlah masalah pencernaan lainnya.


Jadi pelupa
Stres bisa menyebabkan pelepasan kortisol yang mempengaruhi otak. Pikiran akan memberikan kekhawatiran tinggi saat kondisi ini terjadi, sehingga menghalangi ingatan Anda untuk melakukan rutinitas dan hal-hal yang dilakukan sehari-hari.


Masalah tidur
Kadar kortisol yang lebih tinggi dapat membuat kesulitan tidur dan gelisah. Seperti saat Anda berada di pesawat, tidur tidak akan terasa begitu nyaman karena ada berbagai perasaan seperti khawatir.


Mimpi aneh
Pikiran bawah sadar sering kali muncul dalam mimpi. Karenanya, ketika tidur, pikiran-pikiran negatif itu terus berputar di otak dan bergabung menjadi kombinasi yang tidak masuk akal, menciptakan mimpi-mimpi yang aneh.


Mudah marah
Tentu stres diketahui sering membuat orang-orang yang mengalaminya lekas marah. Terlebih, perasaan itu seringkali dilampiaskan kepada orang-orang terdekat.


Kejang otot
Seperti menggertakkan gigi, kejang otot adalah efek samping dari stres. Itu terjadi karena energi yang diciptakan memiliki dampak langsung pada otot dan otot kemudian berkontraksi untuk melepasnya. Untuk menghadapi tanda-tanda stres yang terjadi, cobalah mengingat apakah kehidupan berbeda dari sebelumnya Anda tidak mengalami gejala-gejala ini,

“Terkadang hanya dengan menyadari stres dalam hidup dapat membantu,” jelas Gallagher.

Jika stres terpusat pada perasaan bertanggung jawab atas sejumlah tugas yang tidak masuk akal, Gallagher merekomendasikan untuk berbicara dengan pasangan atau manajer Anda atau orang-orang penting lainnya dalam hidup Anda tentang bagaimana cara berbagi. Selain itu, berbicara dengan tenaga medis profesional di bidang kesehatan mental bukanlah ide buruk, karena mungkin dapat membantu menemukan cara sehat untuk mengenal dan mengatasi stres.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA