Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Cara Perangi Obesitas dengan Batasi Jam Makan

Jumat 06 Dec 2019 23:29 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Menangani obesitas disebut bisa dengan membatasi waktu makan.

Menangani obesitas disebut bisa dengan membatasi waktu makan.

Foto: Health
Menangani obesitas disebut bisa dengan membatasi waktu makan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini, orang yang memiliki masalah obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolestrol kerap disarankan untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah lebih sedikit dan bergerak lebih banyak. Meski demikian, dalam sebuah penelitian terbaru, diketahui bahwa ada cara yang lebih mudah untuk menangani penyakit-penyakit tersebut, yakni membatas waktu makan.

Dilansir The Conversation, Jumat (6/12), studi yang dilakukan pada tikus dan lalat buah menunjukkan bahwa membatasi waktu makan pada hewan-hewan ini dengan apa yang disebut dengan time-restorcted eating (TRE) atau mengkonsumsi makananan berkalori dalam waktu yang konsisten selama 10 jam dapat mencegah, atau bahkan mengobati penyakit metabolik yang tercatat telah mempengaruhi jutaan orang di Amerika Serikat (AS). Karenanya, para peneliti sedang menjajaki efek waktu pemberian nutrisi pada kesehatan manusian.

Hasil yang ditunjukkan dalam penelitian terhadap lalat dan tikus mengarah pada uji coba ide makan yang dibatasi ini pada orang yang sehat. Dalam studi yang berlangsung lebih dari setahun menunjukkan TRE aman.

Selanjutnya, uji coba dilakukan terhadap para pasien dengan penyakit metabolik. Memang tidak mudah menghitung kalori atau mencari tahu berapa banyak lemak, karbohidrat, dan protein dalam setiap makanan. Itu sebabnya menggunakan TRE adalah strategi baru untuk memerangi obesitas dan penyakit metabolisme yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa TRE adalah pilihan gaya hidup yang dapat diadopsi oleh orang sehat dan yang dapat mengurangi resiko penyakit metabolik di masa depan. Namun, metode ini jarang diujicoba pada orang yang sudah didianosis dengan penyakit metabolisme.

Selain itu, sebagian besar pasien dengan penyakit metabolik sering menggunakan obat-obatan dan belum jelas apakah aman bagi mereka untuk menjalani piasa setiap hari selama lebih dari 12 jam, seperti yang dibutuhkan dalam percobaan.

Dalam kolaborasi unik antara sains dasar dan laboratorium sains klinis, peneliti menguji apakah membatasi makan hingga 10 jam meningkatkan kesehatan orang yang memiliki sindrom metabolik dan telah mengkonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah dan kolesterol. Peneliti melibatkan pasien dari klinik UC San Diego yang memenuhi setidaknya tiga dari lima kriteria untuk sindrom metabolik, yaitu obesitas, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol jahat dan kolesterol baik.

Para pasien menggunakan aplikasi penelitian yang disebut myCircadianClock, yang dikembangkan di lab, untuk mencatat setiap kalori yang dikonsumsi selama dua pekan. Hal ini membantu menemukan pasien yang makan dengan jangka waktu 14 jam atau lebih dan mungkin mendapat manfaat dari TRE.

Sembilan belas pasien diketahu memenuhi syarat untuk penelitian ini. Sebagian besar dari mereka juga sudah mencoba intervensi gaya hidup standar untuk mengurangi kalori dan melakukan lebih banyak aktivitas fisik.

Sebagai bagian dari peneltiian, para peserta harus memilih sendiri konsep TRE yang paling sesuai dengan aktivitas dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, pada pukul 9 pagi hingga 7 malam, konsumsi selain air minum dan obat diperbolehkan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA