Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Orang Tua Anak Disabilitas: Jangan Kucilkan Mereka

Senin 02 Dec 2019 16:40 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Literasi Disabilitas Netra. Siswa SLB membaca buku braille di Perpustakaan Gratama Pustaka milik Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Bantul,  Yogyakarta, Selasa (8/10/2019).

Literasi Disabilitas Netra. Siswa SLB membaca buku braille di Perpustakaan Gratama Pustaka milik Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Bantul, Yogyakarta, Selasa (8/10/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Orang tua dengan anak kebutuhan khusus harus kuat dan tidak mengucilkan mereka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkumpulan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (Portadin) mengatakan, mempunyai anak dengan kebutuhan khusus harus kuat dan tidak mengucilkan mereka. Perlakukanlah sama dengan anak lainnya.

"Jangan dikucilkan. Semua anak punya kelebihan dan kekurangan tinggal kita yang mengarahkan mereka," kata Sri Mulichati, orang tua penyandang disabilitas yang ditemui di Jakarta, Senin (2/12).

Sri yang juga anggota Portadin mengatakan, memiliki anak dengan IQ rendah tidak serta merta membuat dia mengucilkan Fauzi, sebaliknya Sri menerima dengan lapang dada.

"Justru kita jadi belajar. Alhamdulillah Fauzi tumbuh menjadi anak yang mandiri," tambah dia.

Bahkan Fauzi berprestasi di bidang olahraga sejak kecil dan saat ini di usianya yang ke 26, ia mampu bekerja. "Anaknya mau melakukan apa saja mulai dari parkir, cuci motor sampai ojek online, saya biarkan saja agar dia mandiri dan menjadi bekal dia di kemudian hari," ujar Sri.

Begitu pula dengan Nurhidayati yang memilik anak berusia 22 tahun dengan kondisi yang sama seperti Sri.

"Anak itu titipan Tuhan yang harus kita jaga dan sayangi. Semua anak punya keunikan tersendiri," kata Nurhidayati yang juga Bendahara Umum Portadin.

Nurhidayati bahkan sudah mempersiapkan diri karena anaknya mengalami gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan.

Namun berkat perhatian dan kasih sayang, anaknya yang sebelum lahir divonis tidak akan bisa berbicara oleh dokter, dengan terapi rutin dan ketelatenan bisa berbicara dan aktif.

Menurut Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (RSPD) Kementerian Sosial Margowiyono, pengasuhan yang paling tepat adalah dalam keluarga. Selama ini masih ada keluarga yang mengucilkan anak dengan kebutuhan khusus karena malu atau tidak menerima kondisi yang berbeda, padahal mereka membutuhkan perhatian sama seperti anak lainnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA