Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Sebagian Besar Korban Jiwa Campak Samoa adalah Anak-Anak

Senin 02 Dec 2019 13:40 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Foto: EPA
Campak di Samoa telah menelan 53 korban jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Korban meninggal akibat wabah campak di Samoa naik menjadi 53. Pemerintah mengatakan pada hari Senin (2/12), jumlah orang yang terinfeksi campak di negara kecil di Pasifik itu tumbuh lebih dari seratus hari.

Sebagian besar korban meninggal adalah anak-anak. Sebanyak 48 korban meninggal di bawah usia empat tahun.

Lebih dari 3.700 kasus campak telah tercatat di pulau berpenduduk sekitar 200.000, dengan 198 kasus baru antara hari Ahad (1/12) dan Senin.

Kasus campak meningkat di seluruh dunia, bahkan di negara-negara kaya seperti Jerman dan Amerika Serikat. Peningkatan kasus terjadi ketika orang tua menolak imunisasi karena alasan filosofis atau keagamaan, atau kekhawatiran, yang dibantah oleh dokter, bahwa vaksin semacam itu dapat menyebabkan autisme.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Oktober lalu memperingatkan tentang kembalinya wabah campak yang menghancurkan di seluruh dunia ketika jumlah kasus yang dilaporkan naik 300 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Kerentanan Samoa telah meningkat karena jumlah orang yang diimunisasi menurun, dengan WHO mengatakan cakupan vaksin hanya sekitar 31 persen.

Negara itu, dengan dukungan dari donor internasional termasuk Selandia Baru dan Australia, telah berlomba untuk memberikan vaksin kepada anak-anak sejak mendeklarasikan keadaan darurat pada 20 November. Sejauh ini sebanyak 58.150 orang telah divaksinasi.

Sekolah dan universitas telah ditutup dan sebagian besar pertemuan umum dilarang di Samoa, yang terletak di selatan khatulistiwa sekitar setengah jalan antara Hawaii dan Selandia Baru.

Campak, virus yang sangat menular yang menyebar dengan mudah melalui batuk dan bersin, telah dilaporkan di negara-negara Pasifik lainnya, termasuk Tonga dan Fiji. Tetapi belum ada laporan kematian di negara-negara tersebut, yang memiliki cakupan vaksinasi yang lebih besar, dikutip dari Reuters.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA