Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Studi: Wanita Sasaran Seksisme Rentan Alami Depresi

Senin 02 Dec 2019 09:44 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari

Studi ini juga menemukan bahwa wanita muda berusia antara 18 dan 30 yang mengalami seksisme kemungkinan besar melaporkan masalah kesehatan mental empat tahun kemudian.

Studi ini juga menemukan bahwa wanita muda berusia antara 18 dan 30 yang mengalami seksisme kemungkinan besar melaporkan masalah kesehatan mental empat tahun kemudian.

Foto: Pixabay
Wanita 18 dan 30 tahun lebih cenderung alami seksisme dari kelompok usia lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seksisme atau perlakuan diskriminasi berbasis gender masih sering terjadi di Indonesia. Namun tahukah Anda bahwa perlakuan itu bisa berpengaruh buruk pada mental korban seksis?

Sebuah penelitian bersama Young Women's Trustand dari University College London, menemukan bahwa wanita muda yang menjadi sasaran seksis selama lima kali, kemungkinan besar akan mengalami depresi klinis.

Studi ini juga menemukan bahwa wanita berusia antara 18 dan 30 tahun lebih cenderung mengalami seksisme daripada mereka yang berada di kelompok usia lainnya. Baik itu seksisme di sekolah, bekerja, di angkutan umum, di taksi atau di luar rumah.

Lebih dari empat dari lima wanita muda yang mengatakan bahwa mereka mengalami seksisme dilaporkan mengalami pelecehan di jalan.

"Saya pikir lebih mudah bagi orang untuk melakukan seksisme di depan umum. Karena melecehkan orang asing biasanya tidak memiliki konsekuensi," kata seorang anggota panel kepada Young Women's Trustand University College London, yang bersama-sama melakukan penelitian.

Studi ini juga menemukan bahwa wanita muda berusia antara 18 dan 30 yang mengalami seksisme kemungkinan besar melaporkan masalah kesehatan mental empat tahun kemudian.

"Seksisme berada di inti diri Anda dan jika Anda mencoba mengabaikannya dan tidak mengatasinya, itu akan memburuk dan merembet pada hal lain dalam diri," demikian kata anggota panel lain dilansir Refinery 29, Senin (1/12).

Kepala Eksekutif Young Women's Trust, Sophie Walker menjelaskan, seksisme yang didefinisikan dalam penelitian ini adalah perasaan tidak aman, menghindari pergi ke suatu tempat atau berada di suatu lingkungan, dihina dan atau diancam, serta diserang secara fisik karena jenis kelamin. “Pada kenyataannya ini adalah krisis kesehatan mental yang disebabkan oleh masyarakat seksis. Seksisme sangat memengaruhi kehidupan wanita muda, kebebasan ekonomi dan kesehatan mereka," kata Sophie Walker.

Karena itu, Walker mendorong pemerintah setempat untuk mengambil tindakan dan mencegah lebih banyak perempuan muda menjadi sasaran seksis dan mengalami pelecehan seksual.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA