Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Dokter Gigi Masih Banyak yang Menolak ODHA

Senin 02 Dec 2019 08:40 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Kampanye, dokter gigi tanpa stigma di Car Free Day Dago, Ahad (1/12)

Kampanye, dokter gigi tanpa stigma di Car Free Day Dago, Ahad (1/12)

Foto: Foto : Arie Lukihardianti /Republika
Saat ini kurikulum pendidikan pada dokter gigi tangani ODHA masih kurang.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Doketer gigi harus memiliki pengetahuan yang cukup dan sikap yang baik dalam menangani orang dengan HIV-AIDS. Namun, menurut Ketua Komite Penyelenggara Lokal, The 8th World Workshop on Oral Health and Disease in AIDS (WW8 AIDS), Irna Sufiawati, berdasarkan hasil penelitiannya, masih ada dokter gigi yang men stigma negatif orang dengan HIV-AIDS (ODHA). 

"Dari hasil penelitian saya, baik tesis S2 maupun S3, ODHA banyak yang ditolak oleh dokter gigi. Mereka, hanya diberi obat kumur atau diberikan rujukan. Banyak laporan yang saya terima seperti itu karena dokter giginya bilang tak siap," ujar Irna kepada wartawan, Ahad (1/12).

Irna berharap, semua paham bahwa orang yang terkena HIV-AIDS itu bukan hanya karena narkoba suntik atau prostitusi saja. Namun, banyak yang terkena padahal mereka tak melakukan apa-apa.

"Bagaiamana kalau anak ODHA? Atau ibu rumah tangga yang kena HIV-AIDS? Mereka  apa mau ditolak? Stigmanya ini yang harus diubah," katanya.

Irna menilai, penolakan tersebut terjadi karena ketidak-siapan dokter gigi tersebut. Saat ini, kurikulum pendidikan pada dokter gigi menangani ODHA ini masih kurang. Jadi, penerimaan pasien HIV-AIDS nya pun masih kurang. 

"Dokter gigi harus paham bagaimana caranya strilisasi alat, mencabut gigi ODHA dan harus ada tindakan preventifnya. Ini memerlukan kurikulum yang benar. Bagaimana kalau ternyata pasiennya HIV-AIDS," katanya.

Seharusnya, kata dia, dokter gigi pun bisa menjadi konseling HIV-AIDS juga. Karena, bagaimana kalau saat menerima pasien gejalanya ternyata ke HIV-AIDS. 

"Dokter gigi, harusnya bisa ada konseling tesnya. Seperti di luar negeri lewat air liur ada yang bisa langsung mengecek HIV-AIDS. Nah, kita belum siap," kata Irna.

Dari hasil obrolannya dengan ODHA, sering kali ada PENOLAKAN. Walaupun ada juga beberapa yang berani mengambil tindakan.

Saat ini, kata dia, peran dokter gigi terhadap HIV-AIDS masih banyak yang belum diketahui padahal memiliki peranan penting. Karena, gejala HIV-AIDS bisa diketahui salah satu  gejalanya melalui mulut dan lidah yang putih-putih. "Ini bjsa diketahui. Dari mulut, bisa deteksi dini HIV-AIDS," katanya.

Irna menjelaskan, The 8th World Workshop on Oral Health and Disease in AIDS (WW8 AIDS), telah dilaksanakan dengan tuan rumah Indonesia, di Seminyak, Bali, 13-15 September 2019.  Pertemuan global tersebut menghasilkan Deklarasi Bali, yang kesepakatan isinya dipimpin oleh Ketua Komite Penyelenggara Internasional WW8 AIDS, Professor Anwar R Tappuni (the Queen Mary University of London).

Isi Deklarasi Bali 2019, kata dia, ada tiga. Yakni, pertama: peran para profesional dokter gigi adalah sebagal bagian yang tidak terpisahkan dari tim profesi kesehatan yang berkomitmen untuk mencapai tujuan UNAIDS.

Kedua, Pendidikan HIV pada mahasiswa kedokteran gigi dan petugas kesehatan gigi merupakan bagian yang terpenting dalam kurikulum kedokteran gigi untuk memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang cukup dan sikap yang sesual dalam menangani orang dengan HIV-AIDS. Ketiga,  program kesehatan masyarakat perlu meyakinkan bahwa masyarakat mempunyai pengetahuan tentang HIV, untuk menormalisasian sikap orang dengan HIV-AIDS dan memahami peran petugas kesehatan gigi.

Irna menilai, penelitian Kesehatan Gigi dan Mulut dapat meningkatkan kualitas diagnosis dan perawatan orang dengan  HIV dan dapat dimanfaatkan sebogai basis evidens pendidikan Perlu dilakukan riset berkualitas agar tujuan UNAIDS tercapai. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia, yang diperingati setiap 1 Desember 2019, Panitia WW8 akan mengadakan AIDS Walk Bandung 2019, di kawasan car free day (CFD), Dago. 

Menurutnya, acara yang mengusung tema "Dokter Gigi Tanpa Stigma" ini juga memuat kegiatan sosial penyuluhan pemeriksaan gigi dan mulut gratis, hingga layanan tes HIV dan konseling gratis. Kemudian, dilaksanakan juga AIDS Walk Bandung oleh 500 peserta yang terdiri dari aktivis, dokter gigi, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang peduli HIV-AIDS. Terdapat juga aksi teatrikal dan hiburan lainnya. 

Pada aksi jalan kaki di CFD Dago Bandung ini,  peserta membawa balon dan tulisan kampanye peduli HIV-AIDS. Seperti di antaranya berbunyi 'Bandung Juara Tanpa Stigma', 'Dentist make the world a a better place', Jauhi Virusnya Bukan Orangnya', 'HIV Ada Obatnya', 'Ketahui Status HIV Sejak Dini', dan “Aku Peduli AIDS”.

"Kami menyelenggarakan AIDS Walk Bandung sebagai implementasi dari Deklarasi Bali 2019. Bahwa dokter gigi berkomitmen penuh untuk melawan stigma dalam pengobatan pasien HIV-AIDS," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA