Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Penelitan Terbaru Ungkap Bayi Sangat Rentan Terkena Campak

Sabtu 23 Nov 2019 02:55 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Petugas pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Ulee Kareng (kanan) memberikan imunisasi vaksin difteri, campak rubella dan vaksin tetanus pada pelajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) V, Banda Aceh, Aceh, Selasa (29/10/2019).

Petugas pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Ulee Kareng (kanan) memberikan imunisasi vaksin difteri, campak rubella dan vaksin tetanus pada pelajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) V, Banda Aceh, Aceh, Selasa (29/10/2019).

Foto: Antara/Irwansyah Putra
Tak ada bayi yang kebal terhadap campak hingga usia enam bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru menyebutkan bahwa bayi ternyata lebih rentan terhadap infeksi campak, dibandingkan apa yang diperkirakan sebelumnya. Temuan dalam penelitian ini membantah anggapan bahwa sebagian besar bayi terlindungi dari penyakit ini di tahun pertama kehidupan mereka.

Fakta yang ditemukan oleh tim peneliti dari Toronto, Kanada di  Hospital for Sick Children and Public Health Ontario adalah sebagian besar dari 196 bayi yang mereka observasi rentan terhadap campak, mulai dari usia tiga bulan. Selain itu, temuan mengungkapkan bahwa tak ada bayi yang kebal terhadap penyakit ini hingga usia enam bulan.

Baca Juga

Selama ini, para bayi di seluruh dunia tidak menerima vaksin campak hingga mereka berusia 12 bulan. Hal itulah yang membuat adanya celah kerentanan yang luas dan dikatakan oleh salah satu penulis studi merupakan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.

Shelly Bolotin, seorang ilmuwan di Public Health Ontario, mengatakan temuan ini menggarisbawahi perlunya setiap orang untuk menjaga imunisasi mereka tetap mutakhir, guna melindungi anak-anak. Ini sangatlah meresahkan, karena campak adalah penyakit yang serius dan dapat bisa berakibat fatal apabila terjadi pada bayi.

“Ini benar-benar fakta yang menyedihkan dan tentu kita perlu memastikan untuk melindungi anggota populasi yang paling rentan terhadap penyakit ini, yaitu para bayi,” ujar Bolotin yang juga merupakan seorang asisten profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Dalla Lana dan Departemen kedokteran laboratorium dan patobiologi di Universitas Toronto, dilansir The Globe and Mail, Jumat (22/11).

Dalam penelitian, ditemukan bahwa 20 persen bayi berusia satu bulan memiliki tingkat antibodi di bawah ambang pelindung. Sementara, 92 persen bayi berusia tiga bulan memiliki kadar di bawah ambang batas.

Bolotin mengatakan para peneliti sudah mengetahui kekebalan bayi menurun dalam enam bulan pertama kehidupan. Meski demikian, mereka tidak menyangka adanya penurunan yang cepat.

“Kami terkejut melihat bahwa pengurangan atau kurangnya perlindungan mulai lebih awal,” jelas Bolotin.

Bolotin mengatakan adanya asumsi bahwa bayi terlindungi lebih lama didasarkan pada penelitian yang dilakukan di tempat-tempat campak masih lazim. Di wilayah tersebut, para ibu tercatat memiliki tingkat antibodi yang lebih kuat untuk ditularkan kepada anak mereka karena kekebalan mereka datang melalui infeksi alami dan berulang kali didorong oleh paparan campak yang terus menerus.

Sebaliknya, sebagian besar para perempuan di Kanada yang berada dalam usia subur memiliki kekebalan melalui vaksinasi. Namun, meski tingkat vaksinasi yang tinggi di negara itu,  imunisasi melalui vaksin dikaitkan dengan tingkat antibodi yang lebih rendah daripada infeksi alami.

Bolotin mengatakan penelitian di Toronto adalah unik dalam mengukur antibodi pada setiap bulan kehidupan bayi sejak lahir hingga 12 bulan. Penelitian sebelumnya telah berfokus pada pengukuran tingkat kekebalan di antara bayi saat lahir atau mereka yang lebih dari enam bulan.

Studi ini dipublikasikan secara daring pada Kamis (21/11) kemarin dan juga akan ditayangkan dalam jurnal American Academy of Pediatrics untuk edisi Desember. Sebuah makalah pendamping yang ditulis oleh dua pakar lainnya yang muncul di jurnal kemudian mempertanyakan apakah sudah waktunya untuk mempertimbangkan mengubah jadwal vaksin. Itu menyimpulkan tidak ada alasan untuk vaksinasi sebelumnya, meskipun wabah yang sedang berlangsung di Amerika Serikat (AS) saat ini.

Bolotin mengakui ini adalah pertanyaan yang menantang bagi pembuat kebijakan di negara-negara karena mereka harus mempertimbangkan resiko infeksi terhadap waktu terbaik untuk memvaksinasi anak-anak, yang sistem kekebalannya masih belum sempurna. Bayi antara enam dan 11 bulan yang bepergian ke daerah-daerah yang terdapat wabah campah didorong untuk menerima dosis awal vaksin selain dari dosis 12 bulan reguler mereka.

Sementara itu, di seluruh wilayah Kanada vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR) direkomendasikan pada usia 12 bulan. Namun, jadwal untuk pemberian dosis kedua vaksin bervariasi.

Dalam sebuah pernyataan, Pediatrics mengatakan vaksinasi dini sebenarnya dapat menghambat kemanjuran dosis selanjutnya. Hal ini membuat tingkat antibodi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang pertama kali mendapatkan vaksin pada usia 12 bulan.

“Vaksinasi dini juga dapat mengubah respons setelah vaksinasi ulang, yang mengarah ke tingkat antibodi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang divaksinasi untuk pertama kalinya selama tahun kedua kehidupan,” kata Pediatrics.

Pediatrics menyatakan hal ini dengan mengutip satu penelitian yang mengamati kekebalan pada anak berusia lima hingga 10 tahun dan lainnya yang diterbitkan pada awal tahun ini. Studi-studi tersebut juga melihat dampak jangka pendek dan jangka panjang pada anak-anak di Belanda.

Hingga akhir pekan lalu, Bolotin mengatakan Kanada telah melihat 112 kasus campak sepanjang tahun ini. Campak menjadi n penyakit sangat menular dan disebabkan oleh virus yang umumnya menyerang anak-anak. Komplikasi paling serius akibat virus ini diantaranya adalah kebutaan, pembengkakan otak, diare, dan infeksi pernafasan yang parah.

Pada tahun lalu, tercatat kasus campak di dunia  meningkat sebanyak lebih dari dua kali lipat dibandingkan pada dari 2017. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih terjadi sentimen "anti-vaxxer" (anti vaksin) di beberapa negara yang mampu membeli vaksin, sementara tindakan pencegahan di negara-negara miskin tak dapat optimal dilakukan karena masalah sumber daya yang tertinggal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA