Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Jurus Jitu Memahami dan Merebut Pasar Milenial

Rabu 20 Nov 2019 22:35 WIB

Red: Hiru Muhammad

Warga mengamati maket salah satu perumahan yang ditawarkan dalam salah satu pameran properti di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Warga mengamati maket salah satu perumahan yang ditawarkan dalam salah satu pameran properti di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Milenial masih sering disalahpahami

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sikap generasi milenial dalam menghadapi perubahan jaman sampai kini masih menjadi topik yang menarik berbagai kalangan. Tidak sedikit para pebisnis yang menjadikan kaum milenial sebagai komoditi dalam menjaring potensi bisnis mereka.

Prilaku kaum milenial yang akrab dengan dunia digital telah memicu terjadinya digital disruption atau gangguan digital di masyarakat. Mereka mampu menyelesaikan sebagian besar persoalan mereka melalui ponsel pintar maupun  perangkat canggih lainnya. Perubahan pola prilaku ini juga terjadi pada cara mereka dalam memandang persoalan kebutuhan hidup.

Salah satunya terkait kepemilikan harta benda. Mereka lebih menyukai segala suatu yang dapat dinikmati bersama, seperti angkutan umum untuk bepergian, ruang perkantoran bergaya co working, bersenang-senang  dan sebagainya. Sikap mereka akan terus berkembang karena industri yang cukup digemar banyak orang tahun 2020 adalah yang terkait dengan leisure. 

Sedangkan prilaku untuk menabung atau berinvestasi seperti membeli rumah mereka kurang menyukai. Selain harga yang mahal untuk ukuran penghasilan mereka, rumah juga membutuhkan biaya perawatan yang tidak kecil.  Mereka lebih menyukai menyewa rumah sehingga bebas berpindah tempat tinggal sesuai keinginan.  

"Rumah adalah tempat kita berkumpul dengan keluarga, dan bisnis properti perlu membalikkan cara berfikir mereka, pendekatannya lebih emosional," kata Yuswohadi, pemerhati masalah pemasaran dari Inventure Indonesia di sela diskusi Milenial Bicara Properti yang digelar DPD REI DKI Jakarta, Rabu (20/11).  

Menurut Yuswohadi saat ini pasar yang menarik adalah generasi X yang berada di posisi puncak karena mapan secara ekonomi,  Namun, dalam lima tahun lagi, pengusaha yang tidak bisa mengakomodir kebutuhan milenial akan mati. "Banyak bisnis yang mati karena tidak bisa memenuhi kebutuhan milenial, seperti e commerce yang merebak menggantikan pusat perbelanjaan," katanya. 

Sedangkan Margareta Astaman, seorang penulis yang juga Blogger menilai perlu pemahaman yang lebih baik terhadap milenial. "Milenial sering disalahpahami," katanya.

Mereka suka bepergian, namun untuk bisa leluasa bepergian membutuhkan dana seperti passive income. Karena bila hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan belum tentu cukup untuk bepergian jauh. "Mereka perlu kebebasan finansial, disinilah properti disampaikan sebagai investasi yang bisa membiayai keinginan bersenang senang mereka," tuturnya. 

Menurutnya, tidak sepenuhnya milenial tidak menyukai berinvestasi properti. Masalah lokasi properti tidak selalu menjadi pertimbangan mereka. Namun, mereka lebih menyukai suatu yang dekat dengan kesenangan mereka.

Seperti dekat dengan tempat senam yoga, pantai atau sawah yang gemar dengan pemandangan alam atau bisa disewakan. "Lokasi penting tapi harus terkait dengan experience mereka," kata Margareta.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA