Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Memopulerkan Specialty Tea Indonesia

Rabu 20 Nov 2019 13:52 WIB

Red: Nora Azizah

Daun teh (Ilustrasi)

Daun teh (Ilustrasi)

Foto: Flickr
Specialty Tea Indonesia sudah mendapat penghargaan dari beberapa negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak hanya kopi, teh asal Indonesia juga tak kalah populer di luar negeri. Teh unggulan Indonesia dengan karakter yang khas ini bahkan sudah mendapat penghargaan dari beberapa negara di dunia.

Baca Juga

Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia, Ratna Somantri mengatakan, banyak masyarakat Indonesia yang belum banyak mengenal Specialty Tea atau teh berkualitas dari Indonesia. Maka tak heran bila Indonesia bahkan masih mengandalkan ekspor teh dari negara lain.

“Banyak orang di Indonesia belum mengenal specialty tea ini, padahal ada beberapa teh kita yang sudah mendapat penghargaan. Seperti teh dari Bukit Sari yang mendapat penghargaan di Prancis, Australia, dan Jepang tapi orang kita sendiri belum kenal, itu yang mau kita angkat,” kata Ratna yang juga Head of Promotion Association of Indonesia Specialty Tea, Selasa (19/11).

Ia juga menyayangkan pasar teh di Indonesia masih didominasi dengan produk teh impor sehingga ke depan perlu ada road map industri teh dari hulu ke hilir. Selain itu, dibutuhkan pula strategi mempopulerkan dan meningkatkan teh Indonesia agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sementara itu, pelaku industri specialty tea asal Tangerang, Product Manager PT Bukit Sari Ronald Goenawan mengatakan, saat ini di Indonesia ada lima jenis teh, yakni white tea, green tea, black tea, olong tea, dan herbal tea. Dari segi UMKM yang paling menarik adalah untuk melakukan blend bagi mereka sendiri.

“Kami bersama petani membudidayakan teh, specialty tea, untuk memasok kafe dan ternyata mampu menarik eksportir masuk,” kata Ferri.

Namun kendalanya masih banyak petani teh yang belum memahami cara perawatan teh untuk kualitas tinggi dengan baik. Pasalnya, banyak petani sudah terbelenggu dengan cara perawatan yang tradisional.

"Kami coba ubah ke specialty tea untuk mendapatkan bahan baku yang bagus itu saya butuh kurang lebih satu tahun. Berawal dari satu petani yang mau, karena yang biasanya mereka ambil pucuk diarit sekarang harus pakai tangan dan harus tiga daun paling atas. Dan itu perjalanannya lumayan susah untuk mengedukasi itu,” katanya.

Namun, lanjut Ferri, upaya ini terus lakukan secara telaten. Hingga kini sudah ada 30 petani binaannya yang mengikuti cara pemetikan teh yang baik untuk mendapatkan teh premium. Saat ini, teh premium dengan kualitas terbaik harga jualnya sangat tinggi mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah per kilogramnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA