Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Jurus Menangkal Aksi Eksibisionisme

Rabu 20 Nov 2019 11:22 WIB

Rep: MGROL 125/ Red: Reiny Dwinanda

Pelaku pelecehan seksual dimintai keterangan di Polres Tasikmalaya Kota, Senin (18/11).

Pelaku pelecehan seksual dimintai keterangan di Polres Tasikmalaya Kota, Senin (18/11).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Psikolog forensik Kasandra Putranto membagikan jurus menangkal aksi eksibionisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua kasus eksibionisme mencuat di Jawa Barat. Apa yang dapat diperbuat agar tidak menjadi korban orang dengan gangguan kesehatan mental tersebut?

Baca Juga

Melatih mental sejak dini
Mental yang kuat merupakan salah satu hal yang perlu dimiliki setiap orang. Kekuatan mental akan besar pengaruhnya untuk selamat sebagai korban kasus pamer kemaluan atau kejahatan seksual lain.

Menurut psikolog klinis Kasandra Putranto, menguatkan metal tidak bisa dilakukan secara cepat. Perlu waktu lama untuk menjadikan seseorang memiliki mental yang kuat.

"Melatih kekuatan mental lebiih baik dilakukan sejak kecil sehingga saat dewasa sudah terbiasa," ujar Kasandra.  

Tidak menengok ketika dipanggil oleh orang tidak dikenal
Biasanya, pelaku eksibionisme terlebih dahulu memanggil korbannya agar memperhatikan dia. Untuk meminimalisir kemungkinan menjadi korban kejahatan tersebut, jangan mudah menengok ketika ada yang memanggil. Lebih baik pastikan terlebih dahulu siapa orang yang memanggil dengan mengenali suaranya.

"Paling aman, jangan mau dipanggil orang tidak dikenal. Langsung lari saja atau panggil orang lain,” jelas Kasandra.

Jangan bepergian sendirian
Pelaku eksibionisme biasanya mencari korban yang sedang seorang diri. Jika hendak bepergian, sebaiknya tidak sendirian. Pergilah beramai-ramai karena ini dapat meminimalisir risiko menjadi korban eksibionisme.

Jangan berteriak
Andaikan suatu ketika Anda bertemu dengan eksibisionis, sebaiknya tahan diri untuk berteriak. Menurut Kasandra, ekspresi itulah yang diinginkan oleh pelaku. Pelaku ingin melihat ekspresi korbannya yang merasa dilecehkan, malu, takut, marah, dan kaget.

Pergi ke psikolog 
Orang trauma akibat yang menjadi korban eksibisionisme sebaiknya berkonsultasi ke psikolog. Dengan begitu, trauma yang terjadi dapat ditangani dan tidak berkepanjangan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA