Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Mengapa Orang Jadi Eksibisionis?

Rabu 20 Nov 2019 10:56 WIB

Rep: MGROL 125/ Red: Reiny Dwinanda

Pelaku pelecehan seksual dimintai keterangan di Polres Tasikmalaya Kota, Senin (18/11).

Pelaku pelecehan seksual dimintai keterangan di Polres Tasikmalaya Kota, Senin (18/11).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Dua pria dengan gangguan eksibisionisme meneror warga Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah perempuan menjadi korban pelecehan seksual di Tasikmalaya dan Baleendah, Jawa Barat. Dua kasus berbeda itu melibatkan pria yang memperlihatkan alat kelaminnya dan satu di antaranya sampai melemparkan air maninya kepada korban.

Baca Juga

"Memamerkan alat kelamin dan aktivitas seksual kepada orang yang tidak dikenal dengan harapan agar memperoleh kepuasan sudah tergolong kepada penyimpangan kejiwaan dalam klasifikasi eksibisionisme,” jelas psikolog forensik Kasandra Putranto kepada Republika.co.id, Rabu (20/11).

Gangguan eksibisionisme, menurut Kasandra, ditandai dengan pencapaian gairah seksual melalui aktivitas memamerkan alat kelamin atau genital. Biasanya, hal tersebut dilakukan kepada orang asing yang tidak curiga.

"Gejala tersebut juga merujuk pada keinginan kuat untuk diamati oleh orang lain selama aktivitas seksual," ungkap Kasandra.

Menurut Kasandra, eksibisionisme adalah bentuk paraphilia atau penyimpangan fungsi seksual. Namun, kebanyakan orang yang memiliki eksibisionisme tidak memenuhi kriteria klinis yang menggambarkan orang dengan gangguan paraphilia alias penyimpangan seksual.

"Orang yang mengalami gangguan paraphilia seharusnya memiliki perilaku, fantasi, atau desakan kuat dari seseorang," kata Kasandra.

Ciri-ciri tersebut, menurut Kasandra, dapat mengakibatkan tekanan klinis yang signifikan, gangguan fungsi, dan menyebabkan kerusakan pada orang lain  Orang yang dianggap memiliki gangguan paraphilia seharusnya juga memiliki ciri-ciri tersebut selama kurang lebih enam bulan.

Sementara itu, gangguan eksibisionisme melibatkan tindakan dari dorongan pada orang-orang yang tidak mau melakukan konsultasi. Menurut Kasandra, orang tersebut mengalami gangguan fungsional karena dorongan tersebut.

"Eksibisionisme sebenarnya tidak hanya ada pada diri laki-laki, tetapi terdapat juga pada perempuan," ujar Kasandra.

Bahkan, menurut Kasandra, diperkirakan prevalensi eksibisionisme pada laki-laki tidak lebih dari dua hingga empat persen. Artinya, presentasenya lebih rendah daripada perempuan.

"Namun, masyarakat lebih sering memberi sanksi kepada beberapa wanita yang didiagnosis dengan gangguan eksibisionisme dengan menyebar video atau lainnya melalui media dan tempat hiburan," ucap Kasandra.

Menurut Kasandra, sekitar 30 persen dari pelanggar seks pria yang ditangkap adalah orang yang memamerkan kemaluannya. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengulanginya lagi dengan tingkat tertinggi dari semua pelanggar seks.

"Terdapat sekitar 20 hingga 50% pelaku yang ditangkap kembali," katanya.

Kasandra mengungkapkan, sebagian besar pelaku eksibisionisme sudah menikah, tetapi perkawinannya sering terganggu oleh buruknya penyesuaian sosial dan seksual. Orang yang mengalami gangguan eksibisionis juga dapat memiliki gangguan kepribadian, seperti anti sosial atau melakukan gangguan terhadap orang lain.

“Perilaku manusia terbentuk karena faktor genetik, pola asuh dan proses belajar. Orang yang memiliki gangguan tersebut bisa juga karena ada yang salah dalam proses tersebut,” jelasnya.

Di mata Kasandra, dua kasus di Jawa Barat tersebut termasuk ke dalam pornografi. Di lain sisi, penutupan konten pornografi di media sosial tidak dapat meminimalisir terjadinya kasus tersebut.

"Pornografi kan tidak selamanya lewat internet, ada yang dia lihat secara langsung. Apalagi, di kampung ada yang satu kamar sama orang tuanya. Ada juga yang pernah mengalami hal tersebut di lingkungan rumahnya,” jelasnya.

Kasandra mengatakan, jika menjadi korban kasus eksibisionisme, korban lebih baik tidak berteriak. Mengapa begitu?

"Karena itu yang dikejar, mereka mengejar ekspresi takut, malu, merasa dilecehkan, kaget, marah, dan lainnya. Lebih baik kasih wajah nggak ramah atau cueklah minimal,” ungkapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA