Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Bayi dan Balita Terlalu Banyak Konsumsi Gula Tambahan

Selasa 19 Nov 2019 11:18 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari

Bayi makan.

Bayi makan.

Foto: PxHere
Gula tambahan banyak ditemukan di makanan yang dilahap bayi dan balita.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Dalam data yang diambil oleh CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS), diketahui 90 persen balita dan 60 persen bayi mengonsumsi banyak gula tambahan. Gula tambahan ditemukan dalam minuman manis, makanan yang dipanggang, hinga sejumlah jenis makanan ringan.

Baca Juga

Tercatat hampir semua balita di Amerika dan sekitar dua pertiga bayi di negara itu mengonsumsi gula tambahan. Padahal terdapat rekomendasi dari ahli gizi bahwa anak-anak harus menghindari jenis zat pemanis buatan.

Para peneliti menggunakan data dari CDC menemukan bahwa dari 2011 hingga 2016, sebanyak  98 persen balita usia 12 hingga 23 bulan mengonsumsi tambahan gula dalam minuman buah, makanan yang dipanggang, permen, dan sereal siap saji. Kemudian, balita kulit hitam mengonsumsi gula tambahan sekitar delapan sendok teh sehari, sementara balita keturunan Asia memiliki jumlah konsumsi gula tambahan paling sedikit, yaitu sekitar 3,7 sendok teh dalam sehari.

“Satu yang paling penting diketahui adalah gula tambahan ada di mana saja. Dan apa yang paling mengejutkan adalah bagaimana gula yang ditambahkan dengan cepat melebihi jumlah harian yang disarankan,” ujar kepala tim peneliti Kristen Herrick, dilansir The New York Times, Selasa (19/11).

Para peneliti juga menemukan bahwa sekitar 60 persen bayi di usia hingga 11 bulan mengonsumsi tambahan gula dalam yogurt, makanan ringan, dan susu, sekitar satu sendok teh per hari. Meski demikian, studi secara keseluruhan terlalu kecil untuk menciptakan kesimpulan ilmiah tentang ras.

Gula tambahan dalam hal ini termasuk pemanis, gula tebu, dan sirup jagung fruktosa tinggi, yang tidak terjadi secara alami dalam makanan. American Heart Association menyarankan agar balita dan bayi sepenuhnya menghindari minuman yang dimaniskan dengan gula.

Dalam studi lainnya, anak dengan usia yang lebih tua harus membatasi gula hingga enam sendok teh per hari. Pada 2016, American Cancer Society merilis pedoman diet yang mengatakan orang dewasa harus membatasi tambahan gula hingga 10 persen dari kalori harian mereka.

Secara khusus, disarankan orang mengurangi jumlah minuman yang dimaniskan dengan gula, termasuk minuman buah dan olahraga, yang mereka konsumsi. Gula dikaitkan tidak hanya dengan penambahan berat badan, tetapi juga dengan banyak jenis kanker.

Herrick mengatakan  konsumsi gula pada remaja dan anak-anak yang lebih besar telah dikaitkan dengan gigi berlubang, asma, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Di tengah berita tentang jumlah konsumsi gula yang mengkhawatirkan, ia mengatakan para peneliti juga mengamati bahwa konsumsi gula pada bayi menurun secara keseluruhan.

Tak hanya itu, memberikan makanan dengan gula tambahan pada anak-anak dalam jumlah melebihi rekomendasi para ahli menurut Herrick bisa mempengaruhi preferensi rasa pada mereka ketika dewasa. Krena itu, tak ada alasan untuk menyediakan minuman yang dimaniskan dengan gula tambahan, maupun jenis makanan lainnya pada bayi dan balita.

"Mereka membutuhkan makanan padat nutrisi,” jelas Herrick.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA