Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Stres tak Selalu Berdampak Buruk

Selasa 19 Nov 2019 03:04 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Nur Aini

Stres (Ilustrasi)

Stres (Ilustrasi)

Foto: Flickr
Stres dapat bermanfaat tergantung respons dari orang yang mengalaminya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi stres ternyata bisa berdampak baik hingga membuat produktif. Hal itu berbeda dari temuan sebelumnya yang menyebut stres dapat berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental. 

Baca Juga

Dilansir di laman Guardian, Senin (18/11), stres ternyata tidak selalu menjadi hal yang buruk. Beberapa psikologi sangat ingin membekali masyarakat sekarang dengan pengetahuan bahwa beberapa jenis stres dapat menjadi hal yang baik, sehat, dan malah membuat produktif. 

Menurut seorang ilmuwan saraf di University of California, Berkeley, Daniela Kaufer, jenis stress ini dikenal sebagai "eustress". Tanpa jenis stres itu, hidup kita akan membosankan dan tidak berarti.

“Stres mendapat anggapan yang sangat buruk. Ada persepsi bahwa stres selalu buruk bagi otak, tetapi itu tidak benar. Respons stres Anda sangat penting untuk kelangsungan hidup Anda. Ini meningkatkan kinerja Anda, sangat penting untuk kewaspadaan dan mempersiapkan Anda untuk beradaptasi dengan hal-hal berikutnya yang datang,” kata Kaufer. 

Gagasan eustress dengan awalan "eu" berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti baik. Orang-orang dapat mengetahui kapan mereka merasa sedikit stres, perasaan yang terkait dengan adrenalin, itu membuat bergerak. “Ini bahkan bisa disertai dengan getaran, ujian menjadi contoh yang baik.  Situasi yang menekan, sebenarnya cenderung mendorong kinerja,” ujar dia. 

Kaufer telah menemukan bukti fisiologis dari kekuatan eustress. Timnya membandingkan aktivitas di hippocampus atau area dalam otak yang terlibat dalam pembelajaran dan memori pada tikus yang terpapar stres berkepanjangan versus stresor moderat yang sebanding dengan eustress pada manusia. Hal yang terakhir memicu pertumbuhan neuron baru.

“Neuron-neuron itu, yang bisa kami tunjukkan, kemudian diaktifkan secara selektif dan membantu dalam belajar untuk situasi selanjutnya yang penuh tekanan. Jadi Anda tampil lebih baik pada saat itu, dan kemudian Anda lebih siap untuk stres atau tekanan di masa depan,” ungkap dia. 

Menurut seorang dosen senior psikologi di Keele University, Richard Stephens, ada alasan kunci lain mengapa kita semua perlu tahu tentang eustress. Ada kemungkinan untuk mengubah tekanan menjadi eustress dengan membingkai ulang situasi yang penuh tekanan sebagai tantangan positif dan menuai manfaatnya.

Sementara itu, profesor psikologi di University of Tulsa, Jennifer Ragsdale mengatakan eustress bisa terjadi ketika Anda memiliki pekerjaan yang penuh tekanan. “Melihat tenggat waktu dan beban kerja sebagai tantangan yang harus dipenuhi atau peluang pertumbuhan sesuatu yang tidak mungkin untuk dicapai,” ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA