Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Gangguan Mood Indikasi Penyebab Bunuh Diri

Ahad 17 Nov 2019 10:32 WIB

Red: Ratna Puspita

Bunuh diri (ilustrasi)

Bunuh diri (ilustrasi)

Foto: factretriever
Kalau penyebab itu variatif, tergantung kasus setiap individu yang melakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Salah satu staf subbagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Psikolog Lyly Puspa Palupi S, mengatakan adanya gangguan mood pada seseorang bisa terindikasi menjadi penyebab munculnya orang yang berkeinginan melakukan "bunuh diri". Namun, ia menegaskan, penyebab gangguan mood bervariasi.

Baca Juga

"Kalau penyebab itu variatif, tergantung kasus setiap individu yang melakukan bunuh diri, salah satunya gangguan mood, hingga depresi sehingga ada keinginan untuk bunuh diri. Bisa dipahami ketika seseorang mengalami kesedihan mendalam, merasa tidak berdaya, tidak ada yang bisa menolongnya akhirnya memutuskan untuk bunuh diri," katanya saat dikonfirmasi di Denpasar, Ahad (17/11).

Ia menambahkan faktor kepribadian juga berpengaruh, seperti individu yang cenderung introvert, kurang suka bersosialisasi, sering memendam masalah sendiri rentan munculnya ide bunuh diri, terutama saat menghadapi masalah yang berat. Selain itu, kondisi psikis tertentu yang menyertai juga berpengaruh misalnya depresi, gangguan cemas, gangguan kepribadian, trauma, psikotik, atau dalam pengaruh penggunaan NAPZA.

"Masalah kehidupan sosial pun bisa memunculkan keinginan orang untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, misalnya karena stress berat akibat menghadapi sakit parah menahun, kondisi ekonomi yang kurang dalam waktu yang berkepanjangan, putus cinta, gagal dalam kehidupan akademik maupun karier pun kerap menjadi alasan seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri," jelas Psikolog Lily Puspa.

Menurutnya, keberadaan individu yang memutuskan untuk bunuh diri, biasanya dilakukan oleh orang yang merasa tidak memiliki alternatif solusi masalah, lingkungan sosial yang kurang membantu, dan karakter pribadi. Selain itu, mudah putus asa sehingga sulit dalam memotivasi diri sendiri untuk bangkit dari masalah.

Ia mengatakan dari semua usia, baik remaja atau orangtua rentan mengalami kondisi serupa. Hal ini dikarenakan setiap tahapan usia memiliki tantangan, tuntutan, serta masalah tertentu yang membutuhkan kemampuan individu dalam mengelola emosi dengan baik, mencari solusi yang positif, serta menjalin hubungan sosial yang baik.

"Kebetulan kalau saya jarang menangani kasus seperti ini, tapi kalau kita lihat trend nya memang cenderung meningkat ya," sebut Lily.

Ia menambahkan dari data WHO setiap 40 detik ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri dan hampir 800 ribu orang bunuh diri dalam kurun waktu satu tahun sedunia tahun 2019. Sedangkan data di Indonesia menurut WHO tahun 2010 mencapai angka 5.000 orang pertahun.

Pihaknya berharap jumlah orang yang meninggal karena bunuh diri dapat berkurang dan tidak memilih hal tersebut menjadi jalan keluar dari permasalahan. Lily menganjurkan untuk tetap menjadi pribadi yang sehat secara fisik, jasmani, mental dan spiritual dan menghadapi masalah, tantangan hidup dengan keyakinan diri yang kuat.

"Tidak membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, jika ingin meraih sesuatu untuk menetapkan target atau keinginan yang realistis, selalu menjalin pertemanan dengan banyak orang di sekitar sebagai lingkungan yang bisa mendukung disaat sulit," jelasnya.

"Jika merasa memiliki beban masalah yang telah melampaui batas kemampuan untuk menyelesaikannya, jangan sungkan untuk menceritakan ke orang terdekat yang dapat dipercaya, usahakan untuk tidak memendam masalah seorang diri,"ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA