Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Terapi Testosteron Bisa Mengancam Jiwa Pria

Jumat 15 Nov 2019 15:44 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari

Kesehatan pria mencakup berbagai aspek.

Kesehatan pria mencakup berbagai aspek.

Foto: ist
Terapi testosteron bisa sebabkan masalah paru, jantung, hingga strok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terapi testosteron bermanfaat untuk membantu mengatasi beberapa masalah pada laki-laki, salah satunya untuk fungsi seksual. Terlepas dari manfaatnya, terapi testosteron juga ternyata memiliki risiko yang perlu diwaspadai.

Studi dalam jurnal JAMA Internal Medicine mengungkapkan bahwa terapi testosteron dapat meningkatkan risiko trombosis vena dalam (DVT) yang bisa mengancam jiwa pada laki-laki. Risiko ini dapat meningkat dua kali lipat pada laki-laki yang menjalani terapi testosteron dalam enam bulan terakhir.

DVT merupakan kondisi di mana gumpalan darah terbentuk pada satu atau lebih pembuluh darah vena dalam. DVT biasanya terjadi di area kaki. DVT yang pecah dapat menyebabkan masalah kesehatan serius pada paru-paru yang dikenal sebagai emboli paru.

Pada laki-laki dengan kondisi kadar testosteron rendah (hipogonadisme), risiko DVT akan meningkat sebanyak dua kali lipat dalam waktu enam bulan setelah menerima terapi testosteron. Sedangkan pada laki-laki tanpa hipogonadisme yang menjalani terapi testosteron, risiko DVT meningkat sebanyak 2,3 kali lipat dalam waktu enam bulan sejak terapi.

Risiko ini juga tampak berkaitan dengan usia laki-laki. Risiko pengingkatan DVT terkait terpai testosteron tampak lebih nyata pada laki-laki berusia paruh baya dibandingkan laki-laki lanjut usia.

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti menilai laki-laki perlu berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjalai terapi testosteron. Ada beberapa alternatif lebih sehat yang bisa dilakukan untuk beberapa kasus.

"Misalnya untuk masalah kenaikan berat badan dan fungsi seksual, mungkin mereka (laki-laki) sebaiknya mencoba perubahan perilaku atau gaya hidup yang mampu memperbaiki kesehatan mereka tanpa obat resep," terang ketua tim peneliti Rob Walker dari University of Minnesota School of Public Health, seperti dilansir WebMD.

Fad mengenai testosteron rendah membuat terapi testosteron mulai banyak dicari sejak 2001 hingga 2013. Akan tetapi tren ini menurun pada 2014 setelah Food and Drug Administration (FDA) memberi peringatan bahwa terapi testosteron dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan strok.

Meski begitu, di Amerika Serikat, terapi testosteron tetap dilakukan oleh lebih dari satu juta orang berusia di atas 30 tahun pada 2016. Beberapa bukti bahkan menunjukkan bahwa terapi testosteron diberikan pada laki-laki yang tidak hipogonadisme atau testosteron rendah.

Pemberian hormon dalam terapi testosteron dapat meningkatkan jumlah sel darah merah dan membuat darah menjadi lebih kental. Selain itu, pemberian hormon ini juga meningkatkan aksi dari platelet, sel darah yang bertugas untuk membentuk gumpalan darah.

Berdasarkan temuan ini, tim peneliti menyarankan agar laki-laki tanpa hipogonadisme sebaiknya tidak menjalani terapi testosteron. Di sisi lain, laki-laki dengan hopogonadisme tetap perlu menjalani terapi testosteron. Akan tetapi, pemantauan terhadap risiko pembentukan gumpalan darah perlu dilakukan selama terapi berlangsung.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA