Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Seberapa Besar Risiko Mengonsumsi Daging Merah?

Kamis 14 Nov 2019 21:17 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Daging steak

Daging steak

Foto: pixabay
Peneliti mengungkap besaran risiko kesehatan dari konsumsi daging merah.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Selama ini, daging merah telah dikaitkan dengan penyakit kanker dan jantung. Namun, apakah itu berarti orang-orang tidak boleh memakan daging merah sama sekali? Terlebih, beberapa menu yang mengandung daging merah, seperti burger dan steak sangat populer di seluruh dunia.

Dalam sebuah penelitian, sebenarnya ada pengecualian dalam konsumsi daging merah, bertentangan dengan studi kesehatan yang selama ini dilakukan. Dalam serangkaian makalah yang diterbitkan pada akhir September lalu, para peneliti mengatakan peningkatan risiko itu kecil dan tidak pasti.

Selain itu, peneliti menyebut, mengurangi konsumsi tidak akan sepadan dengan nikmatnya daging. Penelitian ini tidak mengatakan daging merah dan olahan, seperti hot dog atau bacon sehat, sehingga orang-orang disarankan untuk makan lebih banyak.

Ulasan studi sebelumnya umumnya mendukung hubungan dengan kanker, penyakit jantung, dan hasil kesehatan buruk lainnya. Tetapi penulis mengatakan bukti itu lemah, dan tidak ada banyak kepastian daging yang menjadi penyebabnya, karena faktor diet dan gaya hidup lainnya bisa berperan dalam masalah kesehatan itu.

“Kebanyakan orang yang memahami besarnya risiko akan mengatakan : Terima kasih banyak, tetapi saya akan terus makan daging saya," ujar rekan penulis penelitian, Gordon Guyatt dari McMaster University di Kanada.

Ini adalah contoh terbaru tentang bagaimana penelitian mengenai nutrisi dapat berbeda-beda, dengan ketidakpastiannya membuat munculnya saran-saran yang bertentangan. Para kritikus mengatakan, temuan sering kali tidak didukung oleh bukti kuat.

Sementara, mereka yang membela menentang bahwa beragam studi nutrisi jarang dapat meyakinkan karena kesulitan mengukur efek dari makanan tunggal, tetapi aneka metode tersebut telah meningkat.

"Apa yang perlu kita lakukan adalah melihat bobot bukti. Itulah yang digunakan pengadilan,” ujar Walter Willet, seorang profesor di bidang nutrisi dari Universitas Harvard.

Willett, yang telah memimpin penelitian mengaitkan daging dengan hasil kesehatan yang buruk. Ia mengatakan bahwa ulasan tersebut tidak mempertimbangkan manfaat yang sangat nyata untuk beralih dari daging merah ke pilihan vegetarian.

Studi terbaru berusaha untuk mengukur dampak potensial dari makan lebih sedikit daging, mencatat rata-rata dua hingga empat porsi sepekan dimakan oleh orang-orang di Amerika Utara dan Eropa Barat. Tim peneliti mengatakan bukti untuk memangkas tidak menarik. Misalnya, mereka menemukan bahwa memotong tiga porsi daging merah seminggu akan menghasilkan tujuh kematian akibat kanker lebih sedikit per 1.000 orang.

Berdasarkan analisis, tim peneliti mengatakan, orang-orang tidak perlu mengurangi daging merah karena alasan kesehatan. Tetapi, mereka mencatat bahwa saran mereka sendiri lemah dan belum memperhitungkan faktor-faktor lain, seperti kesejahteraan hewan dan produksi daging tol terhadap lingkungan.

Ada perbedaan pendapat bahkan di antara para penulis, yaitu tiga dari 14 panelis mengatakan mereka mendukung pengurangan daging merah dan olahan. Rekan penulis juga termasuk di antara mereka yang meminta penundaan publikasi.

Mereka yang mendorong untuk menunda publikasi juga mempertanyakan mengapa studi tertentu dimasukkan atau dikecualikan dalam ulasan. Frank Hu dari Universitas Harvard juga mencatat bahwa sekitar sepertiga orang dewasa di Amerika makan setidaknya satu porsi daging merah sehari. Ia mengatakan, manfaat mengurangi akan lebih besar bagi mereka yang makan dalam jumlah tinggi.

Namun, para peneliti lain yang tidak terlibat dalam studi telah mengkritik. John Ioannidis, seorang profesor kedokteran di Stanford University, mengatakan bahwa saran seperti itu dapat mengalihkan perhatian dari pesan yang lebih jelas dan lebih efektif, seperti membatasi jumlah makanan yang kita makan.

Adapun tentang diet, Guyatt mengatakan bahwa ia tidak lagi berpikir daging merah atau olahan memiliki risiko kesehatan yang signifikan. Namun, ia masih menghindari konsumsi makanan ini karena kebiasaan dan mempertimbangkan kesejahteraan hewa, serta alasan lingkungan.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA